Beranda Opini Zakat vs Konten: Ketika Wajah si Miskin Menjadi Komoditas “Engagement”

Zakat vs Konten: Ketika Wajah si Miskin Menjadi Komoditas “Engagement”

3674

KUBUS.ID – Memasuki tiga hari terakhir Ramadan 1447 H, aktivitas berbagi mencapai puncaknya. Di setiap sudut, kita melihat pembagian sembako, amplop, dan bingkisan. Namun, ada satu pemandangan yang tak kalah masif: Lensa kamera yang mengintai.

Selamat datang di era di mana sedekah dianggap “tidak sah” jika tidak ada buktinya secara digital. Hari ini kita membedah fenomena pemberi bantuan yang lebih sibuk memikirkan angle kamera daripada menjaga martabat saudara yang dibantu.

Membeli Air Mata untuk “Like”

Pernahkah Anda melihat video di mana seorang pemberi bantuan memberikan sesuatu, lalu sengaja menahan si penerima agar kamera bisa menyorot wajahnya yang sedang menangis haru? Atau memaksanya mengucapkan terima kasih berulang kali dengan latar belakang logo perusahaan atau wajah si pemberi?

Kritik tajamnya adalah: Kita sedang merampas hak privasi orang miskin. Demi konten yang “menyentuh hati” (dan tentu saja mendatangkan pengikut baru), kita rela memamerkan kemiskinan orang lain ke ruang publik. Kita menjadikan penderitaan mereka sebagai hiasan di feed media sosial kita. Kita tidak sedang memberi bantuan; kita sedang “membeli” konten dengan harga selembar amplop atau sepaket beras.

Hilangnya Adab “Tangan Kanan dan Tangan Kiri”

Agama mengajarkan: “Jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.” Namun, di Ramadan 1447 H ini, prinsipnya berubah menjadi: “Jika tangan kanan memberi, pastikan kamera merekam dalam format 4K agar jutaan orang tahu.”

Dalil klasik yang sering digunakan adalah “untuk menginspirasi orang lain”. Tentu, inspirasi itu baik. Namun, ada garis tipis antara inspirasi dan eksploitasi. Inspirasi tidak butuh wajah si penerima terlihat jelas dalam kondisi paling rapuh. Inspirasi tidak butuh si penerima menunduk malu saat menerima bantuan yang seharusnya memang haknya. Jika niatmu murni menginspirasi, tunjukkan prosesnya, bukan wajah penderitaannya.

Kritik Pedas: Jika Anda harus mengunggah foto orang miskin yang sedang menerima bantuanmu hanya untuk merasa bahwa Anda telah berbuat baik, maka sebenarnya yang Anda tolong bukan mereka, melainkan harga dirimu yang sedang haus validasi.

Hierarki Pemberi dan Penerima

Konten sedekah sering kali menciptakan narasi “Sang Penyelamat” dan “Si Malang”. Ini menciptakan ketimpangan martabat yang luar biasa. Si penerima diposisikan sebagai objek yang harus bersyukur sedalam-dalamnya, sementara si pemberi diposisikan sebagai pahlawan tanpa cela.

Padahal, dalam konsep zakat, pemberi sebenarnya sedang menitipkan hak si miskin yang ada pada hartanya. Jadi, pemberi seharusnya berterima kasih kepada penerima karena telah membantunya membersihkan harta dan menjalankan kewajiban agama. Dengan menjadikannya konten, kita justru membalik logika itu menjadi bentuk “piutang budi” yang tidak sehat.

Akhir Kata: Berbagi dalam Senyap

Ramadan 1447 H ini, mari kita tantang diri kita sendiri: Bisakah kita memberikan bantuan terbesar kita tahun ini tanpa satu pun orang lain yang tahu? Bisakah kita menjaga rahasia kebaikan itu hanya antara kita, si penerima, dan Tuhan?

Berbagilah dengan cara yang paling memuliakan manusia. Simpan ponselmu di kantong saat tanganmu menjulurkan bantuan. Biarkan wajah mereka tetap terjaga martabatnya. Karena pahala yang paling besar bukan terletak pada banyaknya “share” atau “retweet”, melainkan pada ketulusan yang tidak membutuhkan saksi selain Sang Maha Melihat.

Ingat, di akhirat nanti, tidak ada kolom komentar untuk memuji konten sedekahmu. Yang ada hanyalah timbangan seberapa bersih niatmu saat itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini