KUBUS.ID – Kita hidup di era yang terbiasa dengan kecepatan. Segala sesuatu dirancang untuk instan informasi bisa diakses dalam hitungan detik, hiburan tersedia tanpa batas, bahkan kesuksesan sering ditampilkan seolah bisa dicapai dengan cepat.
Budaya ini secara perlahan membentuk cara kita memandang hidup.
Tanpa sadar, kita mulai percaya bahwa segala sesuatu seharusnya bisa didapatkan dengan cepat. Bahwa jika kita sudah berusaha, hasilnya juga seharusnya segera terlihat. Bahwa keterlambatan adalah kegagalan.
Namun hidup tidak selalu bekerja seperti itu.
Proses tetap membutuhkan waktu. Perkembangan tidak selalu terlihat. Dan tidak semua hal bisa dipercepat.
Di sinilah quarter life crisis sering muncul ketika ekspektasi yang dibentuk oleh budaya instan bertabrakan dengan realita hidup yang jauh lebih kompleks.
Banyak orang merasa tertinggal, padahal sebenarnya mereka hanya berada di fase proses yang normal. Namun karena terbiasa melihat hasil instan, proses terasa seperti sesuatu yang salah.
Beberapa pengaruh budaya instan yang terasa dalam kehidupan:
• keinginan untuk melihat hasil cepat
• ketidaksabaran dalam menjalani proses
• rasa gagal ketika belum mencapai sesuatu
• standar waktu yang tidak realistis
Padahal, banyak hal dalam hidup tidak bisa dipercepat tanpa kehilangan maknanya.
Dan mungkin, bagian tersulit dari hidup di era ini adalah belajar untuk tetap sabar di tengah dunia yang tidak pernah berhenti bergerak cepat.
































