KUBUS.ID – Hari kedua puluh Ramadan 1447 H telah tiba. Di kantor-kantor, pembicaraan bukan lagi soal tadarus, melainkan soal tiket kereta, harga avtur, hingga rute alternatif agar tidak terjebak macet 20 jam di jalan tol. Inilah awal dari ritual kolosal bernama Mudik.
Secara filosofis, mudik adalah perjalanan kembali ke akar, ke tempat di mana kita belajar mengeja kata dan mengenal cinta. Namun secara sosiologis, mudik masa kini telah bermutasi menjadi ajang “Laporan Pertanggungjawaban Kesuksesan” di depan sanak saudara.
Panggung Sandiwara di Kampung Halaman
Bagi banyak perantau, mudik bukan sekadar pulang, tapi “tampil”. Kita merasa harus pulang dengan membawa simbol-simbol keberhasilan: pakaian bermerek, gawai terbaru, hingga mobil sewaan yang dipaksa parkir di depan rumah kayu orang tua.
Ada beban psikologis yang berat: “Jangan sampai terlihat gagal di kota.” Akibatnya, banyak orang yang memaksakan diri di luar batas kemampuan finansialnya. Kita ingin dilihat sebagai “orang sukses” selama lima hari di kampung, meski harus menanggung penderitaan finansial selama sebelas bulan ke depan di perantauan.
Lingkaran Setan “Salam Tempel”
Salah satu tradisi yang paling menjepit leher para pemudik adalah budaya bagi-bagi uang atau “salam tempel”. Sebenarnya ini adalah tradisi berbagi yang indah, namun telah berubah menjadi standar sosial yang diskriminatif.
Kita merasa malu jika hanya memberi sedikit, sementara tetangga sebelah yang juga mudik memberikan jumlah yang lebih besar. Akibatnya, banyak yang menempuh jalan pintas: menarik dana darurat, menguras tabungan pendidikan anak, atau yang paling parah, mengambil pinjaman online (pinjol) demi terlihat dermawan di depan keponakan. Kita sedang membeli pujian dengan bunga pinjaman yang mencekik.
Kritik Tajam: Jika kebahagiaan orang tuamu di kampung diukur dari seberapa tebal amplop yang kamu bawa, maka ada yang salah dengan cara kita mendefinisikan bakti. Dan jika kesuksesanmu hanya bisa dibuktikan lewat pamer barang, maka sebenarnya kamu belum sukses; kamu hanya sedang menyewa citra.
Lelah Fisik, Bangkrut Ruhani
Mudik adalah perjuangan fisik yang luar biasa. Macet berjam-jam, kehausan di jalan, hingga risiko kecelakaan. Namun, semua itu sering kali kita tempuh bukan demi rindu yang tulus pada orang tua, melainkan demi “tugas sosial” agar tidak dianggap sombong atau lupa kacang pada kulitnya.
Kita sering kali sampai di kampung dalam keadaan emosi yang tidak stabil karena kelelahan, lalu justru berdebat dengan keluarga karena urusan sepele. Kehangatan yang dicari justru hilang tertutup oleh pamer pencapaian dan adu gengsi antar sepupu.
Akhir Kata: Pulanglah sebagai Manusia, Bukan sebagai “Pemenang”
Ramadan 1447 H ini, mari kita kembalikan makna mudik ke khitahnya. Orang tuamu tidak butuh mobil barumu, mereka butuh kehadiranmu. Saudaramu tidak butuh pameran gajimu, mereka butuh tawa tulusmu di meja makan.
Jangan memaksakan diri untuk tampil “wah” jika itu harus mengorbankan ketenangan hidupmu setelah lebaran nanti. Tidak ada gunanya menang jadi “raja” di kampung halaman selama seminggu, kalau harus menjadi “budak hutang” selama setahun di kota.
Pulanglah dengan membawa hati yang bersih, bukan hanya dompet yang dipaksakan tebal. Karena sejatinya, keberhasilan perantauanmu tidak diukur dari apa yang kamu bawa pulang, tapi dari jadi manusia seperti apa kamu saat kembali ke pelukan orang tua.






























