Beranda Gaya Hidup IHSG Ambles, Pemerintah Jangan Hanya Lip Service Untuk Menyenangkan Publik

IHSG Ambles, Pemerintah Jangan Hanya Lip Service Untuk Menyenangkan Publik

20
Profesor Wibisono Hardjopranoto Pengamat Ekonomi Ubaya Surabaya (foto:redaksi)
KEDIRI-KUBUS.ID-Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan serius. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG terperosok ke level 6.370,68 atau melemah 3,46 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Pelemahan tajam ini dinilai menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi nasional, terlebih di tengah terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pengamat Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Prof. Drs. E.C Wibisono Hardjopranoto menilai kondisi tersebut bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan cerminan menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

“Pasar keuangan bergerak berdasarkan kepercayaan. Ketika investor melihat ketidakpastian arah ekonomi dan respons pemerintah yang dianggap belum meyakinkan, maka modal akan keluar dengan cepat. Itu yang sekarang terjadi di pasar saham maupun nilai tukar,” ujar Wibisono saat berbincang dengan Jurnalis Andika Media, Adnan Raharja.

Menurutnya, pemerintah perlu lebih terbuka terhadap kritik dan masukan dari kalangan akademisi maupun pelaku ekonomi. Ia mengingatkan, komunikasi ekonomi yang terlalu normatif tanpa dibarengi langkah konkret justru berpotensi memperburuk sentimen pasar.

“Jangan semua situasi selalu dikatakan baik-baik saja. Investor membaca data, bukan sekadar pernyataan. Ketika realita di lapangan berbeda dengan narasi yang dibangun, maka trust akan terkikis perlahan,” tegasnya.

Wibisono menjelaskan, dua indikator utama yang saat ini menjadi perhatian pasar adalah melemahnya rupiah dan terus merosotnya IHSG. Kedua faktor tersebut dinilai menunjukkan adanya tekanan terhadap fundamental ekonomi domestik serta meningkatnya kehati-hatian investor asing terhadap Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung tanpa langkah pemulihan yang jelas, dampaknya bisa meluas ke sektor riil, mulai dari investasi yang tertahan, melambatnya ekspansi industri, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan melakukan langkah buyback surat berharga negara melalui skema Bond Stabilization Fund (BSF) guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

Namun demikian, kebijakan tersebut dinilai belum cukup untuk mengembalikan optimisme pasar apabila tidak dibarengi kepastian arah kebijakan ekonomi nasional.

“Intervensi jangka pendek seperti buyback memang bisa meredam gejolak sesaat. Tetapi pasar membutuhkan kepastian yang lebih besar, yakni konsistensi kebijakan, kepastian investasi, dan keberanian pemerintah mengakui persoalan ekonomi yang sedang terjadi,” tambah Wibisono.

Berdasarkan catatan redaksi kubus.id, IHSG sempat berada di level tertinggi 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Namun sejak sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari daftar indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), tekanan jual investor asing terus meningkat dan membuat pasar domestik mengalami koreksi tajam.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini