KUBUS.ID – Memasuki hari kedua puluh tiga Ramadan 1447 H, suasana di masjid dan musala biasanya dihiasi oleh suara lembaran kertas yang dibalik dengan cepat. Ada target yang harus dicapai sebelum suara takbir berkumandang: Khatam Al-Quran.
Tentu saja, membaca Al-Quran adalah ibadah yang agung. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri: Apakah kita sedang membaca untuk berdialog dengan Tuhan, atau kita sedang melakukan “maraton literasi” demi sebuah pencapaian yang bisa dipamerkan saat Lebaran nanti?
Perlombaan Tanpa Makna
Fenomena Khatam Karbitan adalah kondisi di mana seseorang memacu kecepatan bacaannya layaknya sedang mengikuti lomba balap. Mata melihat huruf, lidah mengucapkan bunyi, namun otak dan hati sedang memikirkan “masih berapa lembar lagi agar sampai ke juz berikutnya”.
Kita merasa bangga jika bisa khatam dua atau tiga kali selama Ramadan. Tapi, jika ditanya apa pesan Tuhan di surah Al-Baqarah tentang keadilan, atau apa peringatan Tuhan di surah Al-Ma’un tentang orang yang mendustakan agama, kita hanya terdiam. Kita mahir mengeja hurufnya, tapi buta terhadap pesannya. Al-Quran diturunkan sebagai Hudan (Petunjuk), namun kita memperlakukannya seperti jimat yang cukup dibaca tanpa perlu dimengerti.
Kuantitas vs Kualitas Ruhani
Kritik tajamnya adalah: Kita sedang terjebak dalam jebakan angka. Kita merasa semakin banyak jumlah juz yang dibaca, semakin “saleh” nilai kita di hadapan manusia. Padahal, satu ayat yang dibaca dengan penuh perenungan, hingga membuat air mata menetes dan perilaku berubah, jauh lebih dahsyat dampaknya daripada 30 juz yang lewat begitu saja di tenggorokan tanpa membekas di perbuatan.
Bayangkan Anda menerima surat cinta dari kekasih, lalu Anda membacanya secepat kilat hanya agar bisa bilang “Sudah saya baca!”. Apakah itu yang namanya cinta? Tentu tidak. Cinta menuntut pemahaman, perenungan, dan tindak lanjut.
Kritik Pedas: Jika khatammu hanya menghasilkan kebanggaan di media sosial, namun mulutmu masih tetap lincah menggunjing dan hatimu masih penuh dengki, maka sebenarnya kamu tidak sedang mengkhatamkan Al-Quran; kamu hanya sedang berolahraga lidah.
Al-Quran yang Terasing di Tangan Pembacanya
Ironi terbesar adalah ketika Al-Quran dikhatamkan berulang kali di bulan Ramadan, namun nilai-nilainya tidak pernah “khatam” diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita membaca ayat tentang larangan riba, tapi bisnis kita masih penuh tipu daya. Kita membaca ayat tentang menyantuni anak yatim, tapi kita pelitnya luar biasa.
Al-Quran menjadi “asing” karena kita hanya menyentuhnya dengan bibir, bukan dengan karakter. Kita memperlakukan khataman sebagai checklist ritual tahunan, sebuah formalitas yang dilakukan agar Ramadan kita terasa “lengkap” secara administratif.
Akhir Kata: Berhenti Sejenak untuk Mengerti
Ramadan 1447 H ini, belum terlambat untuk mengubah cara kita berinteraksi dengan Kitab Suci. Jangan terbebani oleh target khatam jika itu membuatmu kehilangan esensi. Tidak apa-apa hanya sampai Juz 10, asalkan 10 Juz itu mengubah caramu memandang dunia dan memperlakukan sesama.
Lebih baik membaca sedikit namun membekas di hati dan teraplikasi di tangan, daripada khatam berkali-kali namun akhlak tetap berada di titik nol. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa kali kamu menamatkan bacaanmu, tapi berapa banyak ayat-Nya yang kamu jadikan pedoman dalam hidupmu yang singkat ini.






























