Beranda Jawa Timur Terindikasi Terpapar Radikalisme Lewat Game Online, Kondisi Anak di Tulungagung Mulai Stabil

Terindikasi Terpapar Radikalisme Lewat Game Online, Kondisi Anak di Tulungagung Mulai Stabil

78

Tulungagung, (KUBUS.ID) – UPT PPA Kabupaten Tulungagung terus mengintensifkan pendampingan terhadap seorang anak yang terindikasi terpapar paham radikalisme melalui game online. Pemantauan berkala dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis korban. Saat ini perkembangan psikis anak tersebut dilaporkan mulai stabil.

Langkah penanganan diambil Dinas KBPPPA Kabupaten Tulungagung sejak mendeteksi indikasi paparan paham radikal lewat permainan daring pada akhir 2025 lalu. Hingga kini, proses pendampingan berkala terus diberikan baik kepada anak maupun orang tuanya untuk memastikan pengawasan berjalan maksimal.

Kepala UPT PPA Dinas KBPPPA Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti menceritakan bahwa saat ini kondisi anak dalam keadaan baik dengan pengawasan ekstra dari pihak keluarga. Menurutnya, anak tersebut memiliki potensi besar di bidang digital yang harus dikembangkan secara tepat melalui wadah yang positif.

“Dan anak ini punya talenta, talenta dalam hal di digital,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis klinis dari tim Provinsi Jawa Timur, kecenderungan radikalisme yang kuat sebenarnya tidak ditemukan pada anak tersebut. Dwi menyebut keterlibatan anak dalam grup media sosial menyimpang itu murni karena faktor pencarian validasi diri di usianya.

“Sebenarnya radikalnya nggak ketemu loh ya,” katanya.

Meski demikian, UPT PPA bergerak cepat melakukan intervensi karena aktivitas di dalam grup tersebut disinyalir sebagai tahap awal cuci otak. Beruntung, pola pergerakan jaringan ini segera terdeteksi sebelum mengarah pada pemahaman radikal yang lebih jauh.
Sistem pendampingan dijalankan secara berkala untuk mengevaluasi metode pemulihan yang dibutuhkan.

Pihak UPT PPA Tulungagung rutin menjalin komunikasi via pesan singkat dengan sang anak serta berkontak dengan orang tua demi memastikan kabar terbarunya. Anak tersebut diketahui masuk ke jaringan kelompok luar lewat aplikasi Telegram dan WhatsApp setelah sebelumnya aktif bermain game daring.

Dwi menegaskan pihak dinas tidak membatasi minat anak terhadap game secara total, melainkan fokus memberikan arahan agar tidak memicu sifat pemberontak dalam diri anak.

“Pola anak sekarang itu semakin kita kekang, semakin dia mau meledak kayak, kayak bom waktu, kan gitu,” bebernya.

Pendekatan humanis seperti mengajak anak berjalan-jalan keluar kota sambil membangun kedekatan emosional terbukti efektif memulihkan kepercayaan dirinya. Saat ini, sang anak yang dikenal berprestasi akademis dan mahir berbahasa Inggris tersebut sudah jauh lebih ceria dan berani mengemukakan pendapat.

“Dulu nunduk banget. Kalau awal itu ya ampun, nggak mau dididik,” jelasnya.

Perubahan perilaku ini menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan berjalan sesuai dengan rencana intervensi psikis yang disiapkan dinas. (dit)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini