KEDIRI, (KUBUS.ID) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau tahun 2026 dengan melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya dini untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Hasil pemetaan yang dilakukan BPBD bersama pemerintah kecamatan dan desa menunjukkan sejumlah wilayah masuk kategori rawan kekeringan dengan tingkat kerawanan yang berbeda. Beberapa desa yang masuk kategori kekeringan kritis meliputi Desa Ponggok Kecamatan Mojo, Desa Babadan dan Sempu Kecamatan Ngancar, Desa Sepawon dan Wonorejo Trisulo Kecamatan Plosoklaten, Desa Kalipang Kecamatan Grogol, Desa Kebonrejo dan Besowo Kecamatan Kepung, serta Desa Manyaran Kecamatan Banyakan.
Sementara itu, Desa Bobang di Kecamatan Semen masuk dalam kategori kekeringan langka. Penetapan kategori tersebut didasarkan pada jarak sumber air terhadap wilayah terdampak. Wilayah dengan sumber air berjarak lebih dari tiga kilometer diklasifikasikan sebagai kekeringan kritis, sedangkan jarak antara 0,5 hingga tiga kilometer masuk kategori kekeringan langka.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Joko Sukrisno, menjelaskan bahwa pemetaan tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan langkah-langkah penanganan dan distribusi bantuan apabila terjadi kekeringan.
“BPBD telah melakukan identifikasi dan pemetaan wilayah yang memiliki potensi mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026. Data ini menjadi acuan bagi kami untuk menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari pemantauan kondisi lapangan hingga kesiapan penyaluran bantuan air bersih apabila dibutuhkan masyarakat,” ujar Stefanus.
Menurutnya, potensi dampak kekeringan cukup besar karena menyangkut ribuan warga yang tinggal di daerah rawan. Di Desa Besowo, Kecamatan Kepung, misalnya, diperkirakan sekitar 3.000 jiwa atau 1.000 kepala keluarga berpotensi terdampak apabila pasokan air mengalami penurunan. Sedangkan di Desa Kebonrejo, jumlah warga yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 1.500 jiwa atau 500 kepala keluarga.
Stefanus menegaskan, BPBD Kabupaten Kediri saat ini terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta instansi terkait guna memastikan seluruh langkah antisipasi dapat berjalan optimal.
“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Selain menyiapkan bantuan air bersih, kami juga melakukan pemetaan sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan dan mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” tambahnya.
Selain upaya dari pemerintah, BPBD juga mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam mengurangi risiko kekeringan dengan menggunakan air secara hemat dan menjaga keberlangsungan sumber mata air yang ada di lingkungan masing-masing.
Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih diimbau segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa maupun BPBD Kabupaten Kediri agar dapat segera dilakukan penanganan.
Melalui pemetaan dan langkah mitigasi yang dilakukan sejak awal, BPBD Kabupaten Kediri berharap dampak musim kemarau tahun 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga dan aktivitas warga dapat berjalan dengan baik.(atc/stm)






























