Beranda Kediri Raya Dampak Rupiah Melemah, Harga Oli Mesin Meroket, Penjual Dan Konsumen Harus Pandai...

Dampak Rupiah Melemah, Harga Oli Mesin Meroket, Penjual Dan Konsumen Harus Pandai Putar Otak

7

KUBUS.ID – Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing kian meluas dan memukul sektor usaha mikro di berbagai daerah. Di Kota Kediri, para pedagang suku cadang (sparepart) sepeda motor kini harus menghadapi situasi sulit akibat lonjakan harga kulakan barang yang naik tajam, yang secara otomatis memicu penurunan omset harian secara drastis.

Berdasarkan pantauan Jurnalis Andika di salah satu toko sparepart motor di kawasan Burengan, Kota Kediri, kenaikan harga paling mencolok terjadi pada komoditas oli mesin. Seluruh jenis dan merek pelumas kendaraan mengalami lonjakan harga yang bervariasi. Kenaikan terpantau mulai dari kisaran 20 persen hingga 30 persen, bahkan beberapa produk tertentu mengalami kenaikan hingga hampir menyentuh angka 50 persen.

Kondisi ganti harga massal ini dikeluhkan langsung oleh para pelaku usaha yang berada di garda terdepan penjualan, termasuk Surati, salah satu pemilik toko sparepart di wilayah Burengan, Kota Kediri.

“Oli semuanya naik, ganti harga malahan. Otomatis omset menurun 30 sampai 40 persen dibandingkan dengan hari biasanya sebelum rupiah melemah dan semua kebutuhan naik,” ungkap Surati.

Tidak hanya komoditas pelumas, kebutuhan penunjang berkendara lainnya seperti busi dan ban motor juga ikut mengerek naik. Komoditas-komoditas tersebut terpantau mengalami kenaikan harga di kisaran 10 hingga 20 persen dari harga normal.

Lonjakan harga yang merata di berbagai sektor sparepart ini tentu membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli, meskipun barang-barang tersebut merupakan kebutuhan rutin setiap bulan. Bagi para pedagang seperti Surati, minimnya daya beli masyarakat akibat harga yang melambung tinggi ini langsung berdampak pada arus kas internal toko.

“Surati mengatakan perputaran modalnya jadi terhambat, beruntungnya yang dijual adalah barang tahan lama, jadi masih sedikit tenang. Meskipun omset dan penjualan menurun,” tuturnya.

Di tengah situasi yang serba menjepit ini, Surati dan para pedagang kecil lainnya hanya bisa menaruh harapan besar pada kebijakan pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar mata uang. Surati berharap kondisi ekonomi segera membaik, agar rakyat kecil bisa mencari nafkah dengan tenang tanpa harus selalu dibayangi oleh kenaikan harga di berbagai sektor yang mencekik.

Di sisi lain, lonjakan harga yang luar biasa ini memaksa para pengendara sepeda motor untuk memutar otak demi menghemat pengeluaran bulanan mereka. Strategi bertahan hidup di tengah inflasi terpaksa diambil dengan cara menunda perawatan kendaraan yang seharusnya dilakukan secara berkala.

Bima, salah seorang konsumen yang merasakan langsung dampak kenaikan harga ini, mengaku terpaksa mengubah kebiasaan merawat motornya demi menyesuaikan isi dompet.

“Solusinya dengan mengulur jangka waktu ganti oli. Kalau biasanya satu bulan sekali ganti, sekarang diulur sampai satu setengah bulan baru ganti, menyesuaikan jarak tempuh kendaraan,” pungkasnya.(sof/stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini