“Masa transisi adalah fase anak mengenal lingkungan belajar yang baru. Guru harus menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak dapat beradaptasi secara bertahap, bukan langsung dibebani target akademik.”
– Prof. Dr. Suryanti, M.Pd., Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA –
KEDIRI, KUBUS.ID – Dimulainya tahun ajaran baru menjadi momentum penting bagi peserta didik, khususnya siswa kelas 1 sekolah dasar (SD), yang memasuki fase transisi dari dunia bermain di pendidikan anak usia dini menuju lingkungan belajar yang lebih terstruktur. Pada masa inilah, pendekatan guru dan orang tua menjadi faktor penentu agar anak mampu beradaptasi tanpa tekanan.
Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Dr. Suryanti, M.Pd., menilai masa transisi tidak boleh dipandang sekadar sebagai awal pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung), tetapi juga sebagai proses membangun rasa nyaman anak di lingkungan sekolah yang baru.
“Masa transisi adalah fase anak mengenal lingkungan belajar yang berbeda dari sebelumnya. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak dapat beradaptasi secara bertahap, bukan langsung dibebani target akademik,” ujar Suryanti saat on air bersama jurnalis Andika Media, Eko Supriadi.
Menurutnya, tanpa pendekatan yang tepat, anak berpotensi mengalami tekanan psikologis sejak hari pertama sekolah. Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa takut datang ke sekolah hingga menurunkan motivasi belajar.
Ia menjelaskan, guru kelas 1 SD memiliki tantangan besar dalam mengondisikan peserta didik agar merasa nyaman dengan dunia pendidikan yang baru. Karena itu, proses belajar perlu dikemas melalui metode yang kreatif, atraktif, dan memanfaatkan media visual sehingga siswa lebih mudah fokus dan menikmati pembelajaran.
“Pembelajaran yang menyenangkan dengan media belajar yang atraktif akan membantu anak merasa nyaman. Adaptasi tidak bisa dipaksakan, tetapi harus dibangun secara bertahap sesuai perkembangan mereka,” katanya.
Selain guru, lanjut Suryanti, orang tua juga memiliki peran strategis dalam mendampingi anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Dukungan emosional sejak berangkat hingga tiba di sekolah dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak.
Ia menyarankan agar orang tua memberikan motivasi positif saat mengantar anak ke sekolah tanpa menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan.
“Komunikasi sederhana sebelum anak masuk gerbang sekolah dapat menjadi penyemangat agar mereka lebih percaya diri dan belajar mandiri sejak hari pertama,” jelasnya.
Suryanti menegaskan, pembelajaran pada masa transisi seharusnya tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan petunjuk teknis atau target kurikulum semata. Guru dituntut mampu menghadirkan suasana belajar yang kontekstual, kreatif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Di era digital, pemanfaatan media visual dan teknologi pembelajaran dinilai mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik sehingga siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran.
“Segala upaya harus dilakukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Dunia pendidikan terus berkembang, sehingga guru perlu menghadirkan pembelajaran yang kreatif agar anak fokus dan menikmati proses belajarnya,” tegasnya.
Dengan pendekatan yang tepat dari guru maupun orang tua, masa transisi menuju sekolah dasar diharapkan menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menjadi fondasi kuat bagi perkembangan akademik dan karakter anak di masa depan.(eko/art)






























