Beranda Kediri Raya Tren Kasus Campak di Tulungagung Meningkat, Dinkes Bidik Vaksinasi Kejar ke Balita

Tren Kasus Campak di Tulungagung Meningkat, Dinkes Bidik Vaksinasi Kejar ke Balita

131
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan (Foto: Redaksi)

TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mencatat tren kenaikan temuan kasus suspek campak pada awal 2026. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah warga yang diduga terjangkit penyakit menular tersebut meningkat cukup signifikan.

​Berdasarkan data yang dihimpun, pada periode Januari hingga Februari 2025 silam, tercatat hanya ada 12 kasus suspek campak di Kota Marmer. Namun, memasuki dua bulan pertama di 2026, angka tersebut naik hingga menyentuh angka 38 suspek kasus.

​Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan mengungkapkan bahwa meski secara akumulatif meningkat, fluktuasi kasus sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan memasuki pekan-pekan terakhir di bulan Februari.

​”Jadi di tahun 2025 yang lalu Januari-Februari itu kita ada di 12 kasus suspek. Tapi untuk yang di 2026 ini kita punya 38 kasus suspeknya,” terangnya.

​Guna memastikan status medis para pasien, pihak Dinkes telah mengirimkan puluhan sampel ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya. Dari total 38 suspek yang ditemukan, mayoritas dilakukan pengambilan sampel darah, sementara sebagian kecil lainnya melalui uji sampel urine.

​Hingga saat ini, hasil laboratorium menunjukkan satu pasien dinyatakan positif campak melalui uji urine, sementara puluhan sampel lainnya masih dalam proses pemeriksaan oleh tim ahli di Surabaya.

​”Dari 38 suspek yang ada itu semuanya sudah kita kirim ke BBLKM Surabaya, itu ada 37 yang diambil sampel darah untuk pemeriksaan. Satu pemeriksaan sampel urine dari 38 itu satu yang dinyatakan positif yang dari sampel urine tadi. Dari 37 belum ada hasilnya sampai sekarang,” bebernya.

​Kewaspadaan terhadap campak ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia saat ini tengah memantau ketat sebaran kasus di 22 provinsi.

Jawa Timur sendiri masuk dalam daftar wilayah yang diinstruksikan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI), meski untuk tahun ini prioritas ORI difokuskan pada Kabupaten Jember dan Pamekasan.

​”Informasi juga dari WHO juga Kementerian Kesehatan beberapa waktu yang lalu memang kita di Indonesia saat ini ada di 22 provinsi yang memang memerlukan pengawasan seperti ini untuk kasus campaknya,” paparnya.

​Walau Tulungagung tidak masuk dalam daftar pelaksanaan ORI, dr Aris menegaskan bahwa langkah preventif tidak boleh kendor. Pihaknya kini tengah menyiapkan catch up campaign atau kampanye imunisasi kejar. Sasaran utamanya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) yang sebelumnya belum mendapatkan dosis vaksin campak secara lengkap.

​”Ini nanti akan kita lakukan imunisasi kejar untuk anak-anak yang di bawah lima tahun tersebut yang belum mendapatkan imunisasi campak,” ucapnya.

​Terkait penyebab adanya balita yang belum tervaksinasi, dr Aris mengidentifikasi beberapa faktor teknis di lapangan. Mulai dari faktor mobilitas warga hingga kondisi kesehatan anak yang tidak memungkinkan saat jadwal posyandu atau vaksinasi berlangsung. Hal inilah yang memicu adanya celah kerentanan penularan di tengah masyarakat.

​”Hal ini bisa terjadi karena pada waktu pelaksanaan imunisasi mungkin pada waktu itu bisa jadi sasaran ini tidak ada di tempat. Sehingga tidak melaksanakan vaksin atau bisa jadi pada waktu pelaksanaan vaksin sasaran vaksin ini pada saat akan dilaksanakan vaksin sedang kondisi sakit. Sehingga terjeda untuk mendapatkan vaksinasi,” tandasnya.(dit/adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini