Beranda Jawa Timur Dolar Menguat, Petani dan Peternak di Desa Terjepit Biaya Produksi

Dolar Menguat, Petani dan Peternak di Desa Terjepit Biaya Produksi

0
Salah satu lahan para petani di Kota Batu. (Foto. TimesIndonesia)

BATU, (KUBUS.ID) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan serius bagi petani dan peternak di Kota Batu. Kenaikan harga pakan ternak, bahan baku pertanian impor, hingga kemasan plastik membuat biaya produksi melonjak, sementara harga hasil panen dan produk peternakan justru belum menunjukkan kenaikan berarti.

Penasehat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan sektor pertanian dan peternakan menjadi salah satu bidang yang paling terdampak fluktuasi kurs dolar karena masih bergantung pada bahan baku impor.

“Sebagian besar bahan pakan ternak masih impor dan pembayarannya menggunakan dolar. Ketika kurs dolar naik, otomatis harga pakan langsung ikut terdongkrak,” katanya, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam kurun dua bulan terakhir harga pakan ternak sudah mengalami kenaikan sebanyak tiga kali. Setiap kenaikan mencapai sekitar Rp200 per kilogram.

“Kalau ditotal kenaikannya sudah sekitar Rp600 per kilogram. Dari sebelumnya Rp7.400, sekarang sudah menyentuh Rp8 ribu per kilogram,” ujarnya.

Tak hanya pakan ternak, kenaikan biaya juga terjadi pada sektor penunjang produksi lain seperti kemasan plastik dan bahan aktif obat pertanian yang masih mengandalkan impor. Tentu, lonjakan harga kemasan plastik menjadi salah satu yang paling terasa. Bahkan harga botol plastik disebut meningkat hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.

“Bahan baku plastik juga banyak yang impor, sehingga ketika dolar naik harganya ikut melonjak. Produk pertanian dan peternakan sekarang rata-rata mengalami kenaikan biaya produksi sekitar 15 persen,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan ketidakstabilan harga pasar. Para supplier, kata dia, kini kesulitan memberikan kepastian harga karena perubahan kurs yang terjadi hampir setiap saat.

“Sekarang supplier juga tidak berani mengunci harga untuk jangka panjang. Setiap transaksi harus negosiasi ulang karena harga terus berubah,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan biaya produksi belum diimbangi dengan membaiknya harga jual hasil panen maupun produk peternakan. Harga telur, daging, hingga sejumlah komoditas hortikultura justru cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan.

“Biaya produksi naik terus, tapi harga jual belum ikut naik. Ada beberapa komoditas yang malah turun,” ucapnya.

Ia mencontohkan harga jeruk yang belakangan mengalami penurunan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Selain faktor ekonomi, kondisi itu juga dipengaruhi siklus konsumsi masyarakat pada bulan Dzulqa’dah atau bulan Selo dalam kalender Jawa.

“Biasanya saat bulan Selo hajatan masyarakat berkurang, jadi konsumsi juga ikut turun. Dampaknya harga komoditas melemah,” bebernya.

Meski menghadapi tekanan biaya produksi, petani dan peternak berharap kondisi pasar mulai membaik saat memasuki bulan Dzulhijjah atau bulan Besar, ketika kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan meningkat.

“Harapannya nanti saat masuk bulan Besar permintaan naik lagi, sehingga harga hasil panen dan produk peternakan juga ikut membaik,” pungkasnya. (TIMESINDONESIA/far) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini