Beranda Kediri Raya Pemerintah Diminta Dampingi Petani, Limbah Daun Tebu Tak Harus Dibakar

Pemerintah Diminta Dampingi Petani, Limbah Daun Tebu Tak Harus Dibakar

132

KUBUS.ID – Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi Tulungagung, Muhammad Ichwan Mustofa, menilai praktik pembakaran daun tebu pascapanen yang masih sering terjadi, termasuk di dekat permukiman warga, harus menjadi perhatian serius. Selain mencemari udara, asap pembakaran berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

“Pembakaran daun tebu pascapanen masih marak terjadi. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Asapnya dapat memperburuk kondisi kelompok rentan, sekaligus meningkatkan emisi gas rumah kaca dan mengurangi kesuburan tanah karena merusak mikroorganisme yang bermanfaat,” kata Ichwan.

Menurutnya, kebiasaan membakar masih dipilih karena dianggap sebagai cara paling cepat, mudah, dan murah untuk membersihkan lahan. Namun, cara tersebut justru menimbulkan kerugian yang lebih besar dalam jangka panjang.

“Memang pola pikir yang berkembang selama ini adalah bagaimana mengolah lahan dengan biaya murah, mudah, dan instan. Padahal, ada dampak lingkungan, kesehatan, hingga penurunan kualitas tanah yang harus dibayar,” ujarnya.

Ichwan menegaskan, penyelesaian persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada petani. Pemerintah daerah, perusahaan gula, kelompok tani, hingga masyarakat perlu berkolaborasi untuk mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan atau green harvesting tanpa pembakaran.

“Ini tidak bisa hanya menyalahkan petani. Pemerintah daerah harus memperkuat sosialisasi dan pelatihan, sementara perusahaan gula juga perlu menerapkan aturan yang mendorong petani tidak lagi membakar daun tebu pascapanen,” katanya.

Ia juga mendorong agar limbah daun tebu dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, seperti pakan ternak, kompos, maupun bahan biomassa sebagai campuran energi. Menurutnya, perusahaan gula dapat memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk membantu penyediaan alat dan pelatihan bagi masyarakat.

“Daun tebu sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi. Bisa diolah menjadi pakan ternak, kompos, atau dimanfaatkan sebagai biomassa. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat agar pemanfaatannya benar-benar berjalan,” jelasnya.

Sebagai penutup, Ichwan mengajak seluruh pihak mengubah cara pandang bahwa membakar lahan merupakan solusi terbaik.

“Kita perlu mengubah cara pandang bahwa pembakaran adalah cara yang paling murah dan cepat. Jika dihitung secara menyeluruh, biaya kesehatan masyarakat, kerusakan lingkungan, hingga risiko kebakaran justru jauh lebih besar. Sudah saatnya semua pihak berkolaborasi beralih ke praktik pertanian yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini