Kediri (KUBUS.ID) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang mencatat sebanyak 337 kejadian gempa bumi terjadi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya sepanjang 1–16 Juli 2026. Meski jumlahnya cukup tinggi, seluruh gempa tersebut tidak dirasakan oleh masyarakat dan masih tergolong aktivitas tektonik yang normal.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, mengatakan mayoritas gempa yang terjadi merupakan gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer dan berkekuatan kecil.
“Sepanjang 1 sampai 16 Juli telah terjadi 337 kejadian gempa bumi. Mayoritas merupakan gempa dangkal dengan magnitudo di bawah 3, sebanyak 287 kejadian. Dari seluruh gempa tersebut, tidak ada satu pun yang dirasakan oleh masyarakat di Jawa Timur,” ujar Ricko dalam wawancara di Radio ANDIKA.
Menurutnya, tingginya aktivitas gempa di Jawa Timur tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi letak Indonesia yang berada di pertemuan lempeng tektonik aktif.
Di selatan Jawa Timur, Lempeng Indo-Australia terus menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Selain itu, Pulau Jawa juga memiliki sejumlah sesar aktif di daratan yang dapat memicu gempa bumi.
Ricko menjelaskan, secara normal wilayah Jawa Timur memang mengalami lebih dari 10 gempa setiap hari. Bahkan pada 5 Juli 2026, BMKG mencatat terjadi 44 gempa bumi dalam sehari.
“Wilayahnya merata di seluruh Jawa Timur. Ini merupakan aktivitas alam yang wajar akibat pergerakan lempeng tektonik,” katanya.
Meski sebagian besar gempa yang terjadi berkekuatan kecil, Ricko mengingatkan potensi gempa besar hingga tsunami tetap ada. Ia mencontohkan peristiwa gempa dan tsunami Banyuwangi pada 3 Juni 1994 sebagai pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat.
“Potensi gempa dengan magnitudo besar yang dapat memicu tsunami tetap ada. Karena itu mitigasi, sosialisasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat harus terus dilakukan agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa maupun tsunami,” jelasnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang menyebut waktu maupun kekuatan gempa yang akan terjadi. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara ilmiah.
“Kalau ada informasi yang menyebut akan terjadi gempa besar pada hari dan jam tertentu, dapat dipastikan informasi tersebut tidak benar. Pastikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami hanya berasal dari BMKG,” tegas Ricko.
Informasi resmi mengenai aktivitas gempa bumi dapat diakses masyarakat melalui aplikasi Info BMKG, situs bmkg.go.id, maupun kanal media sosial resmi BMKG dan Stasiun Geofisika Malang.
Ricko juga mengingatkan, apabila terjadi gempa kuat terutama di wilayah pesisir, masyarakat diminta tetap tenang, melindungi kepala, menghindari bangunan yang berpotensi runtuh, serta segera melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi jika terdapat potensi tsunami. (nhd)
































