BLITAR, (KUBUS.ID) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat fenomena baby bust atau penurunan angka kelahiran dalam satu dekade terakhir. Sekitar 7 ribu kelahiran per tahun.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Etti Suryani, S.KM., M.Kes., mengatakan hingga kini pihaknya belum melakukan kajian khusus mengenai penyebab pasti penurunan tersebut. Namun, secara umum terdapat sejumlah faktor yang diduga memengaruhi keputusan keluarga untuk memiliki anak lebih sedikit.
“Kalau untuk penyebab pastinya kita belum melakukan kajian. Tetapi secara umum, kemungkinan dipengaruhi faktor ekonomi, meningkatnya biaya hidup dan pendidikan, pergeseran peran perempuan yang kini lebih banyak berkarier, serta semakin baiknya perencanaan keluarga,” ujar Etti.
Menurutnya, kemudahan akses terhadap alat kontrasepsi juga mendukung pasangan dalam merencanakan jumlah anak sesuai kebutuhan keluarga. Meski demikian, ia menilai faktor ekonomi menjadi dugaan yang paling dominan.
“Kalau saya melihatnya lebih ke faktor ekonomi. Orang tentu ingin kehidupan yang lebih baik, sehingga memilih memiliki anak dalam jumlah yang tidak terlalu banyak,” katanya.
Dari sisi pelayanan kesehatan, Etti menilai penurunan angka kelahiran justru membuat sasaran layanan menjadi lebih terfokus sehingga pelayanan dapat lebih optimal. Namun, ia mengingatkan fenomena ini tidak boleh berkembang menjadi tren childfree karena berpotensi memengaruhi ketersediaan sumber daya manusia pada masa mendatang.
“Yang penting bukan childfree. Kalau sampai seperti itu, ke depan kita bisa kekurangan sumber daya manusia. Di Kabupaten Blitar kondisinya belum sampai ke sana,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan angka kelahiran juga akan berdampak pada struktur demografi. Dengan meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya angka kelahiran, jumlah penduduk usia lanjut diperkirakan akan semakin besar sehingga pemerintah perlu mempersiapkan layanan kesehatan lansia yang lebih optimal.
Terkait perencanaan keluarga, Dinkes Kabupaten Blitar tetap mendorong masyarakat merencanakan kehamilan dengan baik serta mengedepankan program dua anak cukup agar kualitas kesehatan ibu dan anak tetap terjaga. (rif)
































