Beranda Nasional Dominasi Algoritma Media Sosial Jadi Ancaman Baru bagi Generasi Muda

Dominasi Algoritma Media Sosial Jadi Ancaman Baru bagi Generasi Muda

7
Dr.Vinda Maya Setianingrum,S.Sos.,M.A Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya. (dok. Humas Unesa)

Surabaya (KUBUS.ID) — Generasi muda Indonesia kini menghadapi tantangan serius di era digital akibat dominasi algoritma media sosial. Pola kerja algoritma yang terus-menerus menyajikan konten berdasarkan preferensi pengguna dinilai berpotensi kuat memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, Dr. Vinda Maya Setianingrum, S.Sos., M.A., dalam wawancaranya bersama Radio ANDIKA, mengumpamakan fenomena ini sebagai bentuk penjajahan baru yang sulit dihindari. Fenomena tersebut kian rentan berdampak pada Generasi Z yang tumbuh besar bersama media sosial.

“Semakin ke sini media sosial menjajah karena algoritma membawa prinsip bukan apa yang kita butuhkan, tapi apa yang kita sukai,” ujar Vinda.

Ia menjelaskan bahwa interaksi digital seperti memberikan komentar dan menyukai suatu unggahan akan membuat pengguna terus menerima informasi serupa. Kondisi ini memicu terbentuknya echo chamber atau ruang gema yang mengaburkan batasan antara kebenaran dan kekeliruan. Jika tidak memiliki kontrol diri, pemuda rentan memercayai informasi sepihak secara membabi buta.

Situasi ini diperparah oleh kultur sebagian masyarakat Indonesia yang masih menyukai konten kontroversial, bombastis, dan penuh drama. Karena algoritma dan teknologi tidak memiliki kompas moral, mesin akan terus membanjiri pengguna dengan konten sejenis demi mengejar engagement dan monetisasi. Dampak jangka panjang dari paparan tanpa filter ini adalah risiko adiksi yang dapat mengganggu kesehatan mental.

Sebagai langkah mitigasi, Vinda menekankan pentingnya pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, pebisnis, komunitas, pemerintah, dan media (ABCGM). Edukasi mengenai pembatasan durasi menatap layar (screentime) serta melakukan detoks media sosial menjadi urgensi bersama.

“Teknologi itu mesin, kita manusia bedanya punya moral. Kita boleh berdamai dengan media sosial, tapi harus punya filter,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia agar waspada terhadap bentuk baru penjajahan di era digital berupa dominasi algoritma yang dinilai mampu memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga persepsi publik. Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam keterangan resmi yang dilansir Antara di Jakarta, Minggu (24/5).

Menurut Nezar, kehidupan masyarakat saat ini semakin bergantung pada platform digital dan algoritma media sosial sehingga masyarakat kian sulit membedakan fakta, opini, maupun manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena berpotensi memicu polarisasi sosial, memperkuat penyebaran misinformasi, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, khususnya generasi muda.

Nezar juga mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar pada 2026, bahkan dinilai melampaui berbagai ancaman geopolitik dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Selain itu, Nezar turut menyoroti perkembangan pesat teknologi artificial intelligence (AI) yang kini memasuki berbagai tahap, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.

Menurut dia, persaingan global saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan perebutan sumber daya alam, melainkan juga penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.(nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini