TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Kondisi fisik belasan ekor rusa Jawa di kebun binatang mini Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa terus dipantau. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas sorotan Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, yang menilai kawanan satwa tersebut tampak kurus dan memerlukan penanganan khusus.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Tulungagung, Tutus Sumaryani menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terbaru, belasan rusa tersebut sebenarnya tidak mengidap penyakit tertentu. Kendati demikian, dia mengakui ada penurunan performa fisik yang membuat satwa-satwa tersebut terlihat kurang ideal dari segi berat badan.
“Untuk hasil pemantauan kesehatan hewan yang di pendapa, kondisi fisik secara umum, terutama rusa dan hewan yang lain, dari hasil pemeriksaan kami dalam kondisi sehat,” ucapnya.
Tutus menambahkan, meskipun tidak ditemukan adanya gejala pwnyakit, pihak dinas kini berupaya mengoptimalkan pemberian asupan nutrisi. Upaya ini bertujuan agar berat badan rusa bisa kembali meningkat.
“Jadi saat ini kita sedang berupaya untuk bagaimana bisa mengoptimalkan dengan meningkatkan berat badan rusa yang di pendapa biar memperbaiki performanya. Tapi secara umum kondisinya sehat, tidak ada gejala sakit,” terangnya.
Disinggung mengenai penyebab menurunnya performa tersebut, Tutus menyebut faktor lingkungan perkotaan yang jauh dari habitat asli menjadi salah satu pemicu tingkat stres pada satwa. Menurutnya, rusa Jawa merupakan satwa liar yang seharusnya hidup di ekosistem savana atau hutan terbuka, bukan di dalam kandang penangkaran dengan ruang gerak terbatas.
“Dikarenakan kalau satwa rusa itu kan satwa liar. Jadi, dia memang sebenarnya habitatnya tidak di kandang seperti mungkin di perkotaan. Dia kan habitatnya di savana atau di hutan. Faktor stres juga mempengaruhi, selain faktor makanan,” sebutnya.
Selain faktor eksternal lingkungan, kondisi internal di dalam kelompok rusa juga memengaruhi distribusi nutrisi. Tutus memaparkan adanya persaingan atau kompetisi antar-individu saat pemberian pakan berlangsung.
Dalam sistem penangkaran intensif dengan populasi mencapai 15 ekor dalam satu kandang, seringkali muncul individu yang dominan sehingga beberapa ekor lainnya kalah bersaing dan mengalami kondisi serupa stunting atau kekurangan gizi.
“Seandainya kita memberi makan, ada beberapa ekor yang pasti akan mengalami kalah berkompetisi. Faktor dominan pasti ada. Sehingga akan muncul beberapa ekor mungkin akhirnya seperti stunting atau kurang gizi,” jelasnya.
Guna memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga, DPKH Tulungagung telah menjadwalkan pemeriksaan rutin setiap satu minggu sekali. Selain pengecekan fisik, petugas juga melakukan disinfeksi area kandang untuk mencegah potensi serangan penyakit. Pihaknya menargetkan progres perubahan berat badan rusa tersebut bisa terlihat dalam beberapa bulan ke depan.
“Kalau performa peningkatan berat badan kita tidak bisa mengukur dalam dua hari atau minggu, mungkin bulan takarannya. Targetnya paling tidak 2 sampai 3 bulan depan sudah ada progres,” tandasnya. (dit)
































