
TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Operasi Ketupat Semeru 2026 mulai digulirkan di Tulungagung. Fokus utama Polres Tulungagung dalam operasi kali ini menyasar pada pengamanan mobilitas masyarakat di titik-titik rawan di wilayah Bumi Ngrowo.
Kapolres Tulungagung, AKBP Ihram Kustarto menyatakan bahwa operasi ini berlangsung selama 13 hari, terhitung mulai 13 hingga 25 Maret 2026.
Dalam pelaksanaannya, melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan orang dan barang, terutama bagi warga yang meninggalkan kediamannya untuk pulang ke kampung halaman.
“Tentunya sasaran kami adalah kepada orang, barang, dan tempat yang dalam hal ini para pemudik yang datang ke Tulungagung ataupun pemudik yang hendak keluar dari Tulungagung dan tentunya meninggalkan area rumahnya dia,” terangnya.
Untuk mendukung kelancaran operasi tersebut, sebanyak 397 personel gabungan disiagakan di berbagai titik strategis. Kekuatan ini merupakan kolaborasi antara personel Polri dengan instansi samping, mulai dari unsur TNI, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, hingga melibatkan mitra kamtibmas dari unsur PAM Swakarsa seperti Senkom.
Selain menyiagakan ratusan personel, Polres Tulungagung juga mendirikan lima titik pos yang terdiri dari satu pos pelayanan (posyan) dan empat pos pengamanan (pospam) untuk melayani masyarakat.
“Kita menyiapkan lima pos. Satu posyan, empat pospam. Jangan khawatir. Tentunya pos pelayanan di Lembu Peteng, kemudian ada di Besuki, kemudian ada di Bandung, kemudian ada di Simpang Empat Cuwiri, sama di terminal,” bebernya.
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Taufik Nabila mengungkapkan bahwa pihaknya telah memetakan zona prioritas pengamanan, terutama untuk area dalam kota dan Jalur Lintas Selatan (JLS).
Guna mengantisipasi terjadinya stagnasi arus lalu lintas, Polri membentuk tim urai yang dibagi menjadi empat wilayah tugas, yakni zona barat, utara, timur, dan selatan.
“Nanti prioritas kita terutama di dalam kota sama di jalur JLS. Jadi nanti kami akan membuatkan tim urai atau tim bit yang kita bagi menjadi empat, yaitu barat, utara, timur, selatan,” sebutnya.
Menurut AKP Taufik, perhatian khusus akan diberikan pada kawasan Simpang Empat Cuwiri dan Pasar Ngemplak yang secara historis sering mengalami kepadatan parah karena menjadi jalur pertemuan arus menuju pusat kota.
Berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, kawasan ini membutuhkan penanganan ekstra agar tidak terjadi penumpukan kendaraan yang mengular.
“Karena pengalaman tahun lalu yang crowded itu di pasar Ngemplak-Cuwiri, tembusnya kota,” paparnya.
Mengenai prediksi puncak arus, pihak kepolisian memperkirakan kepadatan volume kendaraan akan mulai terlihat pada tanggal 18 hingga 19 Maret untuk arus mudik.
Sementara itu, arus balik diprediksi akan terjadi dalam dua gelombang, yakni pada tanggal 23 Maret dan puncaknya pada akhir pekan setelah operasi resmi berakhir.
“Puncak arus mudik kita prediksi mungkin tanggal 18-19 Maret,” tandasnya. (dit/adr)
































