
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Fenomena media sosial saat ini dinilai semakin kontradiktif. Beragam konten yang melampaui batas normal justru kerap mendapat perhatian besar dan ramai ditiru masyarakat demi mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO).
Dosen Komunikasi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung sekaligus Pegiat Literasi Digital Dimas Prakoso, menilai bahwa mengikuti tren tanpa mempertimbangkan sisi baik dan buruk memang bersifat subjektif. Menurutnya, setiap individu memiliki sudut pandang masing-masing dalam menilai sebuah konten di media sosial.
“Penilaian terhadap suatu tren di media sosial itu sangat tergantung pada cara pandang masing-masing individu. Yang dianggap lucu atau menarik oleh satu orang, belum tentu berdampak baik bagi yang lain,” ujar Dimas Prakoso saat On Air bersama jurnalis Andika Media, Eko Supriadi.
Ia menjelaskan, pola konsumsi media sosial saat ini sangat dipengaruhi oleh algoritma digital yang secara otomatis menyajikan konten sesuai kebiasaan pengguna. Kondisi tersebut memicu budaya latah sosial hingga FOMO yang kebablasan.
Menurut Dimas, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial kini tidak mengenal batas usia. Baik anak muda maupun orang tua semakin gandrung dengan media sosial dan sering kali menerima informasi mentah-mentah tanpa filter logika yang kuat.
“Celakanya, banyak masyarakat yang menganggap semua informasi di media sosial sebagai sebuah kebenaran mutlak tanpa melakukan penyaringan terlebih dahulu,” tambahnya.
Ia juga menyinggung perubahan besar pola akses digital sejak masa pandemi Covid-19. Sistem work from home (WFH) dan belajar dari rumah membuat masyarakat semakin akrab dengan dunia digital dan media sosial.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) memang memiliki peran dalam regulasi lalu lintas media sosial. Namun, derasnya arus konten dinilai membuat pengawasan tidak mungkin dilakukan secara menyeluruh.
Termasuk fenomena konten pocong yang kembali viral di berbagai platform media sosial. Tayangan tersebut bahkan dipercaya sebagian masyarakat sebagai sesuatu yang nyata dan benar.
“Mitigasi terhadap dampak negatif media sosial tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis masyarakat menjadi benteng utama agar tidak mudah terbawa FOMO yang kebablasan,” pungkas Dimas. (eko)






























