Beranda Dunia Bulan Purnama Bukan Pertanda Bencana, BRIN: Penamaan Red Moon hingga Blue Moon...

Bulan Purnama Bukan Pertanda Bencana, BRIN: Penamaan Red Moon hingga Blue Moon Hanya Tradisi

1
Super Blue Blood Moon(Dok NASA)

KEDIRI, KUBUS.ID – Fenomena bulan purnama yang kerap disebut dengan berbagai nama seperti Red Moon, Blue Moon, hingga Blood Moon masih sering dikaitkan masyarakat dengan pertanda buruk, bencana, atau musibah. Namun, pandangan tersebut ditegaskan tidak memiliki dasar ilmiah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, M.Sc, menjelaskan bahwa penamaan bulan purnama tersebut bukan merujuk pada perubahan warna bulan secara khusus. Sebaliknya, istilah-istilah itu berasal dari tradisi masyarakat Eropa yang menamai bulan purnama berdasarkan waktu atau kondisi tertentu saat fenomena tersebut terjadi.

“Secara ilmiah warna bulan purnama tetap putih kekuningan. Penamaan seperti Red Moon, Blue Moon, atau Blood Moon bukan karena warna bulan benar-benar berubah, melainkan merupakan istilah yang diberikan berdasarkan waktu terjadinya bulan purnama dalam tradisi masyarakat Eropa,” ujar Thomas Djamaluddin saat On Air bersama Radio ANDIKA.

Menurutnya, sebagian masyarakat masih salah memahami istilah tersebut karena menganggap nama yang disematkan menunjukkan perubahan fisik bulan yang drastis. Padahal, yang terjadi hanya perbedaan posisi bulan dalam orbitnya yang dapat memengaruhi tampilan ukuran atau kecerahannya dari Bumi.

Thomas menilai munculnya berbagai mitos dan kepercayaan terkait bulan purnama merupakan hal yang wajar. Namun, masyarakat perlu lebih kritis dalam menyaring informasi yang beredar, terutama di era digital yang memungkinkan berbagai konten tanpa dasar ilmiah tersebar luas.

“Masyarakat sering menghubungkan fenomena alam dengan berbagai peristiwa karena pengaruh informasi dan tontonan yang diterima. Namun, jika tidak memiliki dasar ilmiah, tentu hal itu tidak bisa dijadikan kebenaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dampak nyata bulan purnama yang telah terbukti secara ilmiah adalah meningkatnya pasang air laut. Kondisi tersebut dapat memicu banjir rob, terutama jika bertepatan dengan cuaca buruk dan angin kencang.

“Pengaruh utama bulan purnama adalah kenaikan muka air laut. Jika bersamaan dengan cuaca ekstrem, dapat meningkatkan potensi banjir rob di wilayah pesisir. Di luar itu, tidak ada hubungan langsung antara bulan purnama dengan bencana atau musibah tertentu,” jelas Thomas.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada berbagai narasi yang mengaitkan fenomena bulan purnama dengan pertanda petaka. Edukasi dan literasi sains menjadi penting agar masyarakat dapat memahami fenomena alam secara rasional dan berdasarkan fakta ilmiah.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini