KEDIRI,KUBUS.ID – Pelatihan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih belakangan ini menuai sorotan tajam dari publik karena dinilai terlalu militaristik. Menanggapi urgensi tersebut, praktisi kebijakan publik, Cesar Demas Edwinarta, S.I.P., M.I.P., menilai ada kekeliruan dalam pembagian porsi antara latihan dasar kemiliteran (latsarmil) dan materi manajerial.
Sebagai informasi, pelatihan awal ini dijadwalkan berlangsung selama 30 hari untuk latsarmil dan hanya 15 hari untuk latihan manajerial.
“Dalam perspektif saya sebagai praktisi kebijakan publik, saya menilai ini kayaknya kebalik. Harusnya porsinya lebih besar yang manajerialnya,” ujar Cesar.
Cesar menambahkan, jika latsarmil tetap ingin dilaksanakan selama 30 hari untuk melatih kedisiplinan, maka pelatihan manajerialnya minimal harus dilakukan dalam durasi yang sama atau bahkan lebih lama.
Cesar mengutip teori dramaturgi Erving Goffman untuk menjelaskan perbedaan antara panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Kedisiplinan fisik, menurutnya, cukup menjadi konsumsi panggung belakang. Sementara di panggung depan, yang paling dinantikan masyarakat adalah kinerja nyata manajer dalam memajukan koperasi.
Merujuk pada ahli kebijakan publik Merilee S. Grindle, Cesar menekankan bahwa efektivitas suatu kebijakan harus berfokus pada isi (content of policy). Mengingat tujuan awalnya adalah mencetak manajer koperasi yang andal, maka fokus utama wajib diletakkan pada pembekalan kompetensi manajerial, bukan militer.
Ia juga menyoroti kebingungan Kementerian Pertahanan dalam merancang program ini, karena menyatukan konsep pelatihan manajer dengan Komponen Cadangan (Komcak).
“Konteksnya harus dibedakan antara latsar untuk manajer Kopdes dengan latsar untuk menjadi Komcak. Komcak itu nuansanya benar-benar militer karena dipersiapkan untuk panggilan negara, sehingga seleksi fisiknya pun sangat ketat,” jelasnya.
Mengingat pelatihan sudah berjalan sekitar 15 hari, Cesar menyarankan pemerintah segera melakukan langkah evaluasi cepat dengan mengubah pola pelatihan di sisa waktu yang ada. Ia berharap sisa 15 hari ke depan dapat dialihkan sepenuhnya untuk materi manajerial yang aplikatif.
Menurutnya, seorang manajer Kopdes membutuhkan ilmu yang kuat di bidang, Ekonomi dan Akuntansi, Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), Orientation Tour (Orientasi Lapangan/Uji Coba Langsung)
“Akan lebih baik jika mereka diberikan sejenis study tour atau orientasi langsung di lapangan. Jadi mereka bisa melihat langsung potensi desa, seperti contohnya pengelolaan tahu di Kediri agar bisa dikemas vakum dan berorientasi ekspor. Poin-poin seperti itu yang harusnya didapatkan dari pelatihan manajerial,” pungkas Cesar. (ikj)































