Beranda Jawa Timur Bullying di Kediri Meningkat, Faktor Fatherless Jadi Sorotan

Bullying di Kediri Meningkat, Faktor Fatherless Jadi Sorotan

8
Foto : ilustrasi generate AI

KEDIRI, KUBUS.ID – Kasus bullying di Kota Kediri menjadi perhatian setelah laporan yang masuk ke DP3AP2KB mengalami peningkatan. Namun, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri menegaskan bahwa kenaikan laporan tersebut belum tentu menunjukkan jumlah perundungan yang semakin banyak. Kondisi itu justru dinilai sebagai tanda bahwa korban, orang tua, guru, hingga teman sebaya mulai berani melaporkan kasus yang terjadi.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Kota Kediri, Zaki Zamani, menjelaskan selama ini banyak korban memilih diam karena takut mendapat intimidasi atau menjadi sasaran perundungan yang lebih berat. Kini, keberanian masyarakat untuk melapor dinilai menjadi langkah awal dalam memberikan perlindungan kepada korban sekaligus memutus rantai kekerasan di lingkungan sekolah.

“Meningkatnya jumlah laporan belum tentu berarti kasus bullying meningkat. Ini menunjukkan korban atau masyarakat sudah berani melapor. Itu langkah awal menuju keselamatan korban,” kata Zaki Zamani saat OnAir di Radio ANDIKA.

Meski demikian, Zaki mengakui bullying di Kota Kediri masih menjadi tantangan serius. Perubahan pola interaksi anak serta penggunaan media sosial yang semakin bebas membuat tindakan mengejek maupun kekerasan verbal kerap dianggap sebagai candaan. Padahal, menurutnya, candaan tidak boleh membuat salah satu pihak merasa tersakiti.

“Kalau satu anak senang tetapi yang lain sedih, itu bukan bercanda. Itu adalah sesuatu yang menyakitkan,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, DP3AP2KB Kota Kediri selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menggelar edukasi di seluruh jenjang pendidikan, mulai SD, SMP, SMA, SMK, MA hingga MTs. Materi yang disampaikan tidak hanya mengenai bullying, tetapi juga kekerasan terhadap anak, bahaya pornografi, hingga pencegahan perkawinan anak. Program tersebut melibatkan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), tenaga psikolog, serta berbagai bidang di lingkungan DP3AP2KB.

Dalam kesempatan itu, Zaki juga mengungkap sekitar 90 persen pelaku maupun korban bullying berasal dari keluarga yang tergolong rentan, seperti kehilangan sosok orang tua, mengalami kondisi fatherless, atau minim perhatian keluarga. Menurutnya, pola pengasuhan memiliki peran besar dalam membentuk perilaku anak karena anak cenderung meniru apa yang dilihat di lingkungan rumah.

“Orang tua atau keluarga adalah pagar pertama yang membentuk karakter seorang anak,” tegasnya.

DP3AP2KB Kota Kediri saat ini juga menyiapkan program Ditanduri (Deteksi Dini Anak Rentan Kota Kediri) serta Jumpa (Jurus Mudah Pengasuhan Anak) yang memberikan edukasi pengasuhan gratis kepada masyarakat. Zaki mengimbau korban bullying agar tidak memilih diam dan segera melapor kepada guru, sekolah, maupun DP3AP2KB agar pendampingan dapat segera dilakukan. (art)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini