
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Penyebaran hanta virus yang belakangan menjadi perhatian dunia usai ditemukan kasus pada sejumlah penumpang kapal pesiar asal Belanda, kini juga menjadi perhatian di Indonesia. Tercatat, dua kasus sempat terdeteksi di Indonesia dan berhasil ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.
Dr. dr. Muhammad Atoillah Isfandari, M.Kes., Dosen Departemen Epidemiologi FKM Unair Surabaya, mengatakan bahwa hanta virus maupun leptospirosis merupakan bagian dari ancaman zoonosis yang perlu diwaspadai masyarakat.
“Selain tikus yang dikenal sebagai carrier atau inang virus, ada beberapa hewan lain yang juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit,” ujarnya saat on air bersama jurnalis Eko Supriadi.
Menurutnya, perubahan ekosistem dan alih fungsi hutan yang terjadi belakangan ini dapat memicu munculnya zoonosis baru dengan pola penularan yang berbeda. Kondisi tersebut diperparah dengan interaksi manusia dan satwa liar yang semakin tinggi.
“Banyak ahli menyebut zoonosis sebagai penyakit di era modern. Berkaca dari SARS, flu burung hingga Covid-19, sebagian besar memiliki keterkaitan dengan hewan liar,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pola hidup tertentu, termasuk konsumsi hewan liar dengan pengolahan yang kurang sempurna, yang dinilai dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit baru.
Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, faktor lingkungan menjadi salah satu pemicu utama penyebaran zoonosis. Sanitasi buruk, kawasan pemukiman yang kotor, hingga saluran irigasi pascabanjir disebut menjadi media penularan yang perlu diwaspadai.
“Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan personal higiene menjadi langkah mitigasi yang sangat penting untuk menekan penyebaran zoonosis,” tegasnya.
Dr. Atoillah juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala tertentu agar penyebab penyakit dapat segera diketahui dan ditangani dengan tepat.
“Kewaspadaan masyarakat menjadi kunci penting karena beberapa zoonosis memiliki gejala yang mirip penyakit umum, namun bisa berdampak serius jika terlambat ditangani,” pungkasnya. (eko)





























