KUBUS.I D – Pengamat Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Prof. Drs. ec. Wibisono Hardjopranoto, M.S., menilai penurunan harga sejumlah bahan pokok, khususnya telur, lebih dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat dibanding meningkatnya pasokan. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu penurunan kelas menengah, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta meningkatnya pengeluaran rumah tangga menjelang tahun ajaran baru.
“Harga telur turun bukan karena pasokannya melimpah, tetapi karena daya beli masyarakat melemah. Produsen akhirnya menyesuaikan harga agar barang tetap terjual,” ujarnya.
Sementara itu, penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex dinilai sebagai dampak penyesuaian harga minyak dunia. Meski memberikan sedikit keringanan bagi masyarakat, langkah tersebut dinilai belum menyentuh persoalan utama, yakni masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
“Penurunan harga BBM ini hanya penyesuaian akibat turunnya harga minyak dunia. Namun, persoalan besarnya adalah Indonesia masih bergantung pada energi dari luar negeri,” jelasnya.
Wibisono menambahkan, perekonomian Indonesia masih didominasi pola konsumtif sehingga sektor kuliner relatif tetap bertahan, sementara banyak usaha nonkuliner mengalami penurunan. Ia mendorong pemerintah, dunia pendidikan, media, dan masyarakat untuk membangun ekonomi yang lebih produktif, berbasis inovasi dan pengetahuan, agar lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi. (stm)
































