KEDIRI, KUBUS.ID — Fenomena anak di bawah umur yang mengendarai kendaraan di jalan raya masih sering dijumpai dan memicu keprihatinan. Psikolog asal Kota Kediri, Vivi Rosdiana, S.Psi., menilai keputusan orang tua mengizinkan anak menyetir umumnya dipengaruhi faktor kepraktisan dan pola asuh yang kurang tepat.
Vivi menjelaskan, banyak orang tua yang memiliki kesibukan tinggi sehingga memilih membiarkan anak mengendarai kendaraan sendiri untuk mengurangi aktivitas antar-jemput. Selain itu, ada pula orang tua yang menerapkan pola asuh permisif karena ingin menyenangkan anak atau menghindari konflik.
“Orang tua ingin membahagiakan anak atau menghindari konflik dengan mereka, namun pandangannya keliru. Mereka menganggap kemampuan menyetir sendiri sebagai bentuk kemandirian dini dan membawa kebanggaan tersendiri,” ujar Vivi.
Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang kesulitan mengatakan “tidak” kepada anak sehingga memberikan hak istimewa berupa izin mengemudi meski belum memenuhi syarat usia.
Dari sisi psikologis, Vivi menjelaskan remaja di bawah usia 18 tahun masih memiliki emosi yang labil sehingga lebih mudah panik, agresif, maupun bertindak ceroboh saat menghadapi situasi di jalan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perkembangan otak yang belum matang, terutama pada bagian yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan.
Ia menambahkan, remaja juga berada pada fase sensation seeking, yaitu masa ketika mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan terdorong mencari pengalaman baru. Mengemudi kerap dijadikan ajang pembuktian diri agar terlihat lebih hebat di hadapan teman sebaya. Kehadiran teman-teman seusia di dalam kendaraan juga berpotensi mendorong perilaku ugal-ugalan karena tidak ada sosok dewasa yang mengendalikan situasi.
Vivi juga menyoroti fenomena anak di bawah umur yang mengendarai mobil mewah. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan pemaknaan kasih sayang yang kurang tepat serta rendahnya empati terhadap keselamatan pengguna jalan lain. Orang tua dinilai kerap terpengaruh tren media sosial yang menampilkan kemewahan, lalu memberikan fasilitas yang belum semestinya diterima anak.
Meski sebagian orang tua beralasan ingin melatih anak agar siap saat cukup umur, Vivi menegaskan proses belajar mengemudi seharusnya tidak dilakukan di jalan raya umum tanpa pendampingan instruktur profesional. Ia mengingatkan bahwa membiarkan anak di bawah umur mengemudi bukanlah bentuk pendidikan kemandirian, melainkan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan anak maupun pengguna jalan lainnya.
“Mental serta koordinasi anak di bawah umur itu masih belum sempurna atau belum matang secara aspek psikologis,” pungkasnya. (ikj)































