
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Fenomena Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang hanya menerima satu hingga dua siswa baru, bahkan ada yang tidak mendapatkan murid sama sekali, tidak hanya terjadi di Kediri. Praktisi pendidikan sekaligus dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Dr. Drs. Atrup, M.Pd., MM., menilai kondisi tersebut merupakan tren nasional yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan jumlah penduduk hingga pergeseran preferensi orang tua dalam memilih sekolah.
Atrup menjelaskan, berdasarkan data nasional, jumlah peserta didik di Indonesia mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, fenomena sekolah yang kekurangan murid tidak bisa langsung diartikan sebagai meningkatnya angka anak yang tidak bersekolah.
“Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka partisipasi sekolah usia 7–12 tahun pada 2025 mencapai 99,19 persen. Artinya, anak-anak tetap bersekolah, hanya saja terjadi perubahan distribusi dan pilihan sekolah,” jelasnya saat diwawancarai Radio ANDIKA.
Ia menyebut sejumlah faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut, antara lain menurunnya jumlah anak usia sekolah, perpindahan penduduk, lokasi sekolah yang berdekatan, hingga persaingan antar sekolah negeri, swasta, dan sekolah berbasis keagamaan.
Menurut Atrup, saat ini banyak orang tua tidak lagi sekadar mencari sekolah terdekat. Mereka mulai mempertimbangkan kualitas layanan pendidikan sebelum menentukan pilihan.
“Orang tua sekarang lebih melihat fasilitas, keamanan, lingkungan belajar yang kondusif, pendidikan karakter dan agama, prestasi akademik, penerapan teknologi, hingga kepemimpinan kepala sekolah. Semua itu menjadi pertimbangan penting,” ujarnya.
Ia menilai sekolah swasta yang mampu menawarkan nilai tambah dan layanan pendidikan yang jelas cenderung lebih diminati, meskipun biaya yang harus dikeluarkan lebih besar.
Meski demikian, Atrup menegaskan SD Negeri masih memiliki daya tarik. Namun, sekolah perlu terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat agar tetap menjadi pilihan utama.
Menurutnya, peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan karakter siswa, keamanan lingkungan sekolah, komunikasi yang baik dengan orang tua, serta kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Selain itu, setiap sekolah juga perlu memiliki keunggulan yang membedakannya dengan sekolah lain. Promosi saja dinilai tidak cukup apabila tidak diikuti peningkatan mutu layanan pendidikan.
Atrup menambahkan, upaya mengatasi persoalan tersebut memerlukan sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan Dinas Pendidikan. Dukungan kebijakan serta pembinaan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar SD Negeri mampu bersaing dan kembali diminati masyarakat. (stm)






























