KUBUS.ID – Tekanan akademik yang dialami mahasiswa tingkat akhir tidak hanya berasal dari penyusunan skripsi. Tumpukan ekspektasi dari diri sendiri, keluarga, dosen, hingga kekhawatiran menghadapi dunia kerja dapat memicu kelelahan mental atau burnout jika tidak dikelola dengan baik.
Psikolog Klinis RSKK, Shifani Rodhiyan, mengatakan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi umumnya menghadapi tekanan lebih besar dibanding mahasiswa semester awal.
“Permasalahan mereka tidak hanya dipengaruhi oleh beban skripsi saja, tetapi sudah ada beban-beban yang menumpuk dan tidak diselesaikan dengan baik. Akhirnya muncullah burnout,” ujar Shifani.
Menurutnya, mahasiswa sering kali memendam tekanan yang dirasakan sehingga stres terus menumpuk. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikologis apabila tidak segera ditangani.
Shifani menjelaskan, gejala burnout dapat dikenali dari perubahan perilaku, seperti emosi yang lebih sensitif, mudah marah ketika ditanya soal skripsi, mudah lelah, kehilangan semangat beraktivitas, gangguan tidur, hingga menurunnya nafsu makan.
Pada kondisi yang lebih berat, seseorang dapat mulai menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi, mengalami keluhan fisik seperti tangan gemetar dan berkeringat saat menghadapi pemicu tertentu, misalnya ketika menerima pesan dari dosen pembimbing.
“Kalau stres berkepanjangan tidak diselesaikan dengan baik, bisa berkembang menjadi depresi, kecemasan yang meningkat, bahkan muncul perasaan ingin mengakhiri hidup,” katanya.
Selain berdampak pada kesehatan mental, burnout juga dapat memengaruhi kondisi fisik. Pola tidur yang berantakan, konsumsi kopi berlebihan, pola makan yang tidak teratur, serta tekanan psikologis berkepanjangan berisiko memicu gangguan kesehatan seperti maag hingga GERD.
Untuk mencegah burnout, Shifani menyarankan mahasiswa maupun pekerja menyusun skala prioritas, tidak memaksakan diri mengerjakan semua hal secara bersamaan, serta tetap memberikan waktu istirahat yang cukup.
“Istirahat bukan berarti bermalas-malasan. Tubuh juga perlu dihargai. Kalau dipaksakan terus hingga sakit, justru kita tidak bisa menyelesaikan pekerjaan,” ujarnya.
Shifani juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam memberikan dukungan emosional. Ia menyarankan orang tua atau anggota keluarga tidak langsung menanyakan perkembangan skripsi, melainkan lebih dulu menanyakan kondisi psikologis mahasiswa.
“Yang perlu ditanyakan jangan progresnya dulu, tetapi bagaimana kondisinya saat ini, apa yang sedang dirasakan, dan apakah ada yang ingin diceritakan. Dukungan emosional jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar menanyakan kapan skripsi selesai,” tuturnya.
Ia menambahkan, mahasiswa tidak perlu takut untuk bercerita ketika merasa tertekan. Menurutnya, membuka diri kepada keluarga, teman, maupun tenaga profesional merupakan langkah penting agar tekanan yang dirasakan tidak berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius. (stm)































