Beranda Kediri Raya SDN Bedug Kediri Tetap Gelar MPLS Dengan 2 Siswa Baru

SDN Bedug Kediri Tetap Gelar MPLS Dengan 2 Siswa Baru

1143

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Fenomena minimnya jumlah siswa baru kembali terjadi di SDN Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Tahun ajaran baru ini, sekolah tersebut hanya menerima dua siswa baru untuk kelas satu. Kondisi ini memicu perhatian publik terkait tantangan yang dihadapi sekolah negeri di tengah ketatnya kompetisi dunia pendidikan saat ini.

Kepala SDN Bedug, Siti Aminah Dien Afrina, mengakui bahwa pihaknya telah berupaya maksimal dalam proses seleksi penerimaan siswa baru. Sosialisasi telah dilakukan secara masif jauh sebelum periode pendaftaran dimulai. Pihak sekolah juga telah melakukan berbagai inovasi dan penambahan kegiatan ekstrakurikuler sebagai daya tarik, seperti pembiasaan salat dhuha sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) serta keikutsertaan siswa dalam berbagai kompetisi seni.

“Pihak sekolah dalam proses SPMB sudah melakukan sosialisasi yang masif, bahkan jauh sebelum proses SPMB sudah gencar melakukan sosialisasi. Kami juga menambah ekstrakurikuler menarik, tetapi faktanya minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya di SD ini masih kurang,” ujar Siti Aminah.

Meski jumlah siswa jauh dari kata ideal, Siti menegaskan bahwa semangat para guru tidak akan kendur. Pihaknya berkomitmen untuk tetap memberikan layanan pendidikan terbaik bagi kedua siswa tersebut. Menjelang masa pensiunnya, ia mengaku tetap optimistis dan terus mencari terobosan agar SDN Bedug kembali diminati oleh masyarakat di masa depan.

Di sisi lain, guru kelas 2 SDN Bedug, Sukamto, menyoroti adanya pergeseran preferensi orang tua yang menjadi faktor utama minimnya pendaftaran. Menurutnya, persaingan dengan sekolah swasta kini semakin ketat. Banyak orang tua merasa sekolah swasta menawarkan program pendukung dan kegiatan ekstrakurikuler yang lebih variatif dibandingkan sekolah negeri.

“Salah satu faktor yang menjadi penyebab utama adalah persaingan antara sekolah swasta dan sekolah negeri yang semakin ketat. Banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta karena dirasa lebih banyak ekstrakurikuler dan program pendukung lainnya,” jelas Sukamto.

Selain faktor kompetisi, Sukamto juga mengungkapkan kendala demografis dan keterbatasan anggaran sebagai faktor penentu. Ia menyebutkan bahwa jumlah lulusan TK di sekitar wilayah Bedug memang terbilang minim. Terkait pengembangan sekolah, keterbatasan dana operasional memaksa pihak sekolah untuk memilih prioritas kegiatan yang paling mendesak dan efisien secara biaya agar tetap bisa berjalan.

Sebagai penutup, Sukamto berharap adanya pemerataan akses pendidikan sehingga konsentrasi siswa tidak menumpuk di sekolah tertentu saja. Ia mendorong adanya kebijakan pemerintah yang lebih komprehensif agar fenomena minimnya siswa baru di sekolah negeri tidak terus berulang. Meski di tengah keterbatasan, SDN Bedug tetap memastikan KBM berjalan dengan maksimal demi mencerdaskan generasi penerus bangsa.(sof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini