KEDIRI, (KUBUS.ID) – Kegiatan Lomba Baris-Berbaris (LBB) tidak hanya menjadi ajang untuk mengasah kedisiplinan dan kekompakan siswa. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana juga memanfaatkannya sebagai momentum untuk menyampaikan sejumlah pesan penting terkait persoalan yang dihadapi pelajar saat ini, saat memberangkan lomba baris berbaris tingka SMA, MA dan SMK dari depan Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri.
Bupati menilai, kegiatan seperti LBB memiliki nilai pendidikan yang penting karena dapat membentuk karakter anak agar lebih disiplin, rapi, tertib, serta mampu bekerja sama dalam sebuah tim. Dalam lomba baris berbaris ini diikuti sebanyak 172 peserta.
“Memang sebuah daerah itu memberikan pendidikan atau pemahaman kepada anak-anak untuk bisa disiplin, bisa rapi, bisa tertata dengan baik. Yang kedua, harapannya juga ini menimbulkan kompetisi yang sehat,” ujarnya.
Namun, di luar konteks perlombaan, Bupati Kediri juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari dunia pendidikan, salah satunya bullying atau perundungan di lingkungan sekolah.
Ia menegaskan tidak akan segan menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Bahkan, terhadap kasus bullying yang terbukti serius, ia mendorong adanya tindakan tegas sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk opsi mengeluarkan pelaku dari sekolah.
“Saya tidak sungkan untuk menyampaikan kepada Kadis Provinsi Jawa Timur bahwa ada bullying. Saya minta untuk di-drop out,” tegasnya.
Selain bullying, Bupati juga menekankan pentingnya edukasi mengenai pendidikan seks sesuai usia dan perkembangan anak. Menurutnya, pemahaman tersebut diperlukan sebagai langkah pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial yang belakangan muncul di masyarakat.
Ia menyinggung meningkatnya pengajuan dispensasi pernikahan di bawah umur sebagai salah satu fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama.
“Yang kedua, pendidikan seks usia dini. Supaya apa? Hari ini hal-hal yang tidak nampak di permukaan, contohnya seperti jumlah dispensasi pengajuan pernikahan di bawah umur, itu meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, edukasi yang tepat sejak dini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada anak mengenai batasan diri, kesehatan reproduksi, serta konsekuensi dari perilaku seksual yang berisiko.
Bupati juga menyinggung persoalan HIV/AIDS yang menurutnya perlu menjadi bagian dari perhatian dalam upaya memberikan pemahaman kepada generasi muda.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong sinergi dengan pihak pendidikan untuk menangani persoalan tersebut. Sebab, kewenangan pendidikan tingkat SMA/SMK berada di Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Kami tidak punya kewenangan, oleh itu saya gunakan untuk menyampaikan hal-hal tersebut,” katanya.
Ke depan, Pemkab Kediri akan memperkuat komunikasi dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Fokusnya terutama pada upaya pencegahan bullying dan penguatan edukasi bagi pelajar mengenai kesehatan reproduksi serta perilaku yang aman dan bertanggung jawab.
“Selanjutnya pendidikan Kabupaten akan intens dengan kepala cabang, dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, akan intens untuk dua hal tersebut,” pungkasnya.(atc/stm)






























