
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Komoditas telur ayam ras kini tengah menjadi sorotan utama di tengah tren kenaikan harga mayoritas kebutuhan pokok di pasar. Berbanding terbalik dengan barang pokok lainnya yang merangkak naik, harga telur justru mengalami penurunan yang sangat drastis dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena unik ini dipicu oleh terjadinya surplus suplai atau kelebihan stok yang melimpah langsung di tingkat peternak.
Penurunan harga ini terjadi secara bertahap dan cukup signifikan dari harga normal sebelumnya. Joko Windoko, salah seorang penjual telur di pasar Setono Betek Kota Kediri, mengungkapkan bahwa harga komoditas ini merosot hingga menyentuh angka terendahnya minggu ini. Penurunan ini diprediksi masih bisa berlanjut karena ketersediaan barang di gudang-gudang peternak yang masih sangat melimpah.
“Harga telur ayam ras ini terjun bebas dari yang awalnya Rp27.000, lalu turun bertahap, sampai sekarang berada di titik Rp22.000 per kilogram. Kemungkinan harga ini masih akan turun terus mengingat stok di peternak saat ini masih sangat banyak,” kata Joko.
Menariknya, situasi ini justru disambut positif oleh kalangan pedagang eceran di pasar. Dengan harga modal yang jauh lebih murah, para pedagang mengaku bisa mengambil margin keuntungan yang lebih fleksibel. Penurunan harga beli dari peternak ini mendongkrak profitabilitas pedagang hingga belasan persen dibandingkan saat harga sedang tinggi.
“Dari kalangan pedagang sendiri sebenarnya justru senang dengan adanya penurunan harga seperti sekarang, sehingga profitnya semakin banyak, ada kenaikan sampai 12 persen. Istilahnya, modal yang kami keluarkan sedikit, tapi untungnya lumayan,” tutur Joko.
Kendati demikian, ia tetap berharap harga bisa segera stabil di angka standar agar tidak ada pihak, baik penjual maupun peternak, yang dirugikan.
Sementara itu, tren penurunan harga ini rupanya tidak berlaku bagi komoditas telur ayam kampung atau ayam jawa. Di saat telur ayam ras berkisar di angka Rp22.000 per kilogram, harga telur ayam jawa terpantau tetap tinggi dan stabil di angka Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir. Karakteristik pasar dan pasokan yang berbeda membuat telur ayam jawa memiliki segmen harga tersendiri yang relatif kebal dari fluktuasi suplai harian.
Di sisi lain, penurunan harga telur ayam ras ini membawa angin segar dan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat selaku konsumen akhir. “Saya mengaku sangat senang dengan turunnya harga telur ini. Di tengah naiknya mayoritas kebutuhan pokok dan ketidakstabilan ekonomi saat ini, penurunan ini sangat membantu sehingga alokasi dana kebutuhan dapur kami bisa lebih merata,” ungkap Nanik. (sof)






























