Beranda Nasional BMKG: Gelombang Panas di Eropa Tidak Berdampak ke Indonesia, Cuaca Terik Dipicu...

BMKG: Gelombang Panas di Eropa Tidak Berdampak ke Indonesia, Cuaca Terik Dipicu Musim Kemarau

16

Nganjuk, (KUBUS.ID) – Fenomena gelombang panas (heatwave) yang melanda sejumlah negara di Eropa dipastikan tidak akan berdampak ke Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi cuaca panas yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini merupakan hal yang wajar saat musim kemarau.

Yaris, Forecaster BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, menjelaskan secara klimatologis Indonesia berada di wilayah tropis yang memiliki karakteristik berbeda dengan negara-negara subtropis yang saat ini mengalami gelombang panas.

“Fenomena gelombang panas atau heatwave sangat kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Secara klimatologis Indonesia berada di wilayah tropis dengan atmosfer yang lembap dan dikelilingi lautan, sehingga tidak memiliki karakteristik yang mendukung terjadinya heatwave seperti di wilayah Eropa,” ujar Yaris.

Menurutnya, cuaca panas yang dirasakan masyarakat saat ini dipengaruhi dominasi cuaca cerah selama musim kemarau. Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari mengenai permukaan bumi secara langsung sehingga suhu udara terasa lebih terik pada siang hari.

Selain itu, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari yang membuat intensitas penyinaran meningkat di wilayah Indonesia pada periode tertentu.

Yaris menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara cuaca panas di Indonesia dengan fenomena heatwave yang terjadi di Eropa.

Heatwave merupakan kondisi suhu udara yang jauh di atas normal klimatologis dan berlangsung setidaknya selama lima hari berturut-turut. Panasnya bertahan sejak pagi, siang hingga malam sehingga suhu tidak kembali normal,” jelasnya.

Sementara itu, di Indonesia suhu udara umumnya hanya terasa panas pada siang hari. Ketika malam hingga dini hari, suhu justru menurun sehingga masyarakat masih dapat merasakan udara dingin atau yang dikenal dengan istilah bediding.

“Kalau di Indonesia saat ini kita hanya merasakan panas pada siang hari. Saat malam hingga dini hari justru terasa dingin. Jadi ini berbeda dengan heatwave yang panasnya bertahan sepanjang hari,” tambahnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai dampak musim kemarau dengan menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari.

“Masyarakat diimbau mencukupi kebutuhan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi, membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di bawah sinar matahari,” katanya.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau akibat kondisi udara yang kering. (rif)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini