Beranda Kediri Raya Harga Ayam Potong Melonjak, Pengamat Soroti Distribusi dan Rantai Pasok

Harga Ayam Potong Melonjak, Pengamat Soroti Distribusi dan Rantai Pasok

3540
Pengamat Ekonomi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Dr. Deny Yudiantoro. (Dok. Pribadi)

TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Harga daging ayam potong di tingkat konsumen dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan. Pengamat Ekonomi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Dr. Deny Yudiantoro, menilai kenaikan tersebut perlu dilihat dari rantai distribusi mulai dari peternak hingga konsumen.

Menurut Deny, harga ayam di tingkat pengecer saat ini berada di kisaran Rp40.000 per kilogram. Angka tersebut berada di batas atas harga acuan pembelian yang ditetapkan Badan Pangan Nasional, yakni sekitar Rp36.750 hingga Rp40.000 per kilogram.

“Kalau kita melihat harga yang ada di kandang, untuk livebird kisarannya Rp20.000 sampai Rp23.000. Ada selisih Rp15.000 sampai Rp18.000. Berarti ada variabel-variabel lain yang ada di sana,” kata Deny.

Variabel tersebut antara lain biaya pemotongan, tenaga kerja, distribusi, transportasi, cold storage, sewa tempat, retribusi, hingga risiko ayam tidak terjual atau mengalami kematian.

Deny juga melihat adanya peningkatan permintaan ayam, terutama setelah aktivitas sekolah kembali berjalan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali aktif. Namun, menurutnya, MBG bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan harga ayam naik.

“Ketika permintaan mengalami kenaikan, sementara supply mungkin tetap, pasti terjadi ketidakseimbangan. Pemerintah perlu berupaya meratakan sebaran pasokan ayam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara nasional pasokan ayam disebut surplus, tetapi distribusinya belum merata. Peternakan ayam masih terkonsentrasi di sejumlah daerah sehingga biaya distribusi ke wilayah yang jauh dari sentra peternakan dapat memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Deny menilai kondisi tersebut juga menjadi peluang bagi pelaku bisnis untuk melakukan ekspansi peternakan ke daerah yang pasokannya masih terbatas.

“Ini sebenarnya peluang bisnis. Ketika ada daerah yang belum banyak peternakannya, investor bisa melakukan ekspansi sehingga sebaran peternakan lebih merata dan ketimpangan harga antardaerah bisa dikurangi,” jelasnya.

Bagi pelaku UMKM kuliner yang menggunakan ayam sebagai bahan baku utama, Deny menyarankan agar tidak bergantung pada satu pemasok. Pelaku usaha perlu membandingkan harga dari beberapa supplier agar dapat menekan biaya produksi.

Ia juga menyarankan pelaku usaha memiliki tempat penyimpanan yang memadai untuk menjaga stok saat harga sedang lebih rendah.

“Pengusaha jangan hanya tergantung pada satu supplier. Kita harus punya banyak supplier supaya bisa menentukan variasi harga,” katanya.

Deny mengingatkan, kenaikan harga bahan baku juga dapat menjadi dilema bagi pelaku UMKM. Menaikkan harga produk berisiko membuat konsumen beralih, sementara menurunkan kualitas produk juga dapat memengaruhi kepuasan pelanggan.

Sementara bagi peternak, kenaikan harga pakan menjadi salah satu tantangan. Menurut Deny, sebagian peternak mandiri dapat melakukan inovasi dengan mencampur atau melakukan mixing pakan. Namun, banyak peternak ayam potong di wilayah Karesidenan Kediri yang menjalankan pola kemitraan atau plasma dengan perusahaan.

Deny juga mengingatkan adanya potensi ketidakseimbangan perubahan harga dari tingkat peternak hingga konsumen. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai asymmetric price transmission.

“Ketika harga ayam hidup naik Rp2.000, di tingkat konsumen bisa naik Rp5.000. Tetapi ketika harga di kandang turun Rp2.000, di tingkat konsumen hanya turun Rp500. Itu yang memang harus kita kontrol,” tegasnya.

Deny berharap pemerintah dan seluruh pihak dalam rantai distribusi melakukan pengawasan agar harga ayam dapat kembali lebih stabil dan tidak terlalu membebani konsumen maupun pelaku UMKM.

Ia menambahkan, lonjakan harga ayam sebenarnya dapat diantisipasi karena pola kenaikan biasanya terjadi pada periode tertentu, seperti menjelang hari besar maupun meningkatnya aktivitas masyarakat dan hajatan.

“Kalau kita melihat dari tahun ke tahun, kenaikan harga ayam itu pasti ada indikatornya dan sebenarnya bisa diprediksi,” pungkasnya. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini