
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kenaikan harga sejumlah obat di Indonesia. Kondisi ini mendapat perhatian dari apt. Fidi Setyawan, M.Kes., Wakil Dekan Fakultas Farmasi Universitas Strada Indonesia sekaligus Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Kediri.
Menurut Fidi, kenaikan harga obat tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa sebagian bahan baku maupun produk obat masih bergantung pada impor. Ketika nilai tukar dolar menguat, biaya produksi dan pengadaan obat otomatis meningkat sehingga berdampak pada harga di pasaran.
“Sebagian obat masih bergantung pada impor. Ketika kurs dolar naik, harga obat juga ikut terdampak dan saat ini kenaikannya sudah mulai dirasakan,” ujarnya.
Fidi menjelaskan, dampak kenaikan harga obat akan dirasakan berbeda oleh masyarakat peserta BPJS Kesehatan dan non peserta. Bagi peserta BPJS, beban kenaikan biaya pengobatan lebih banyak ditanggung oleh pemerintah melalui sistem pembiayaan kesehatan nasional. Sementara itu, masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS harus menanggung sendiri biaya pengobatan yang semakin mahal.
Ia menilai perlu adanya upaya lebih aktif untuk menjaring masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS. Peran pemerintah daerah hingga tingkat kelurahan dinilai penting untuk meningkatkan kepesertaan, disertai kesadaran masyarakat dan keluarga untuk segera mendaftarkan diri.
“Kalau saat ini masyarakat sakit dan harus berobat secara mandiri ketika harga obat naik, risiko yang muncul adalah jatuh miskin akibat tingginya biaya kesehatan. Karena itu, perlu ada jaring pengaman nasional melalui kepesertaan BPJS yang lebih luas,” katanya.
Selain perluasan kepesertaan BPJS, Fidi juga mengapresiasi adanya layanan pengobatan gratis di sejumlah puskesmas sebagai salah satu langkah yang dapat membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya kesehatan.
Di sisi lain, Fidi menyoroti pentingnya kemandirian industri farmasi nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang berpotensi besar menjadi bahan baku obat. Namun, pengembangan potensi tersebut masih terkendala minimnya dukungan riset dan penelitian.
“Indonesia sangat kaya akan sumber daya yang bisa dikembangkan menjadi bahan baku obat. Yang masih menjadi tantangan adalah dukungan terhadap riset. Ini juga yang selama ini banyak dikeluhkan oleh perguruan tinggi negeri maupun institusi penelitian,” jelasnya.
Ia mendorong pemerintah untuk lebih menggalakkan penelitian dan pengembangan yang mengarah pada kemandirian obat nasional sehingga ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat dikurangi.
Selain itu, Fidi mengajak masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan memanfaatkan pengobatan tradisional atau herbal yang telah terbukti aman dan tersedia di lingkungan sekitar sebagai pendukung upaya kesehatan.
Menurutnya, pemerintah sejauh ini telah melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga keterjangkauan obat, salah satunya melalui pengembangan obat generik. Obat generik memiliki bahan aktif dan khasiat yang sama dengan obat paten, namun dapat diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau.
Ke depan, ia berharap pemerintah semakin berani memperbesar kandungan lokal dalam industri farmasi nasional serta memperkuat penelitian dan pengembangan obat dalam negeri.
“Harapan kita, pemerintah dapat memperbesar muatan lokal dalam produksi obat dan memperkuat riset nasional sehingga ketergantungan pada pihak-pihak tertentu yang menguasai industri obat bisa dikurangi. Dengan begitu, kemandirian farmasi nasional dapat terwujud,” pungkasnya. (santi/fareh)






























