TRENGGALEK (KUBUS.ID) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah selama musim kemarau. BPBD mengingatkan warga tidak membuka lahan atau membakar sampah di sekitar kawasan hutan karena kondisi kering dan suhu panas membuat api mudah menyebar.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah kawasan yang rawan, antara lain Gunung Orak-Arik di Kecamatan Trenggalek, Gunung Sawi di Kecamatan Karangan, kawasan Gunung Jaas di perbatasan Tugu, Trenggalek dan Bendungan, serta wilayah Dongko dan Panggul.
“Memang betul, di musim kemarau ini di wilayah Kabupaten Trenggalek terjadi kebakaran hutan. Sampai hari ini sudah 16 kali di beberapa titik yang rawan,” kata Stefanus saat diwawancarai Radio ANDIKA.
Menurutnya, kondisi kering dan peningkatan suhu menjadi faktor yang memudahkan terjadinya kebakaran. BPBD juga menemukan kejadian yang diduga dipicu puntung rokok. Selain itu, warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena api berpotensi merembet ke kawasan hutan.
Kebakaran terbaru terjadi di sekitar Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. Wilayah tersebut juga tengah terdampak kekeringan sehingga BPBD melakukan distribusi air bersih.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, BPBD bersama TNI-Polri, Perhutani, Cabang Dinas Kehutanan, dan organisasi perangkat daerah terkait melakukan mitigasi serta patroli. Perhutani juga membuat sekat bakar di sejumlah kawasan hutan untuk membatasi penyebaran api.
Stefanus mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Warga yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan juga diminta tidak membakar sampah, daun kering, maupun serasah karena dapat memicu kebakaran.
“Tidak bosan-bosannya kita mengimbau warga masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran atau membuka lahan dengan cara dibakar,” ujarnya. (nhd)































