
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan menggelar kegiatan On The Job Training (OJT) Penanganan Stroke di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) guna meningkatkan kapasitas pelayanan medis primer. Kegiatan ini diikuti oleh dokter, perawat, dan pengelola program stroke dari seluruh puskesmas se-Kota Kediri.
Pelatihan intensif ini dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Kediri untuk merespons tantangan peningkatan kasus penyakit kardiovaskular di wilayah Kota Kediri.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamidah, Sp.P, menegaskan bahwa puskesmas memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani gejala awal stroke di masyarakat.
“Pelaksanaan OJT ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kasus stroke di tingkat pelayanan primer. Saat ini puskesmas menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan yang memiliki peran sangat vital dalam memberikan penanganan awal,” ujarnya.
Kekhawatiran penurunan kualitas kesehatan masyarakat ini kian beralasan mengingat tren kasus hipertensi dan stroke yang terus merangkak naik setiap tahunnya. Stroke saat ini masih kokoh menduduki peringkat atas sebagai salah satu penyakit tidak menular dengan angka kematian tertinggi. Kondisi darurat tersebut menuntut adanya kesiapan sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran sejak pasien pertama kali mengeluhkan gejala.
Untuk memastikan materi yang disampaikan komprehensif, dinas kesehatan menghadirkan deretan pakar dari berbagai rumah sakit terkemuka serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Para narasumber tersebut di antaranya dr. Alfian, Sp.N. (Spesialis Saraf RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri), dr. Rr. Hessi Harisawati, M.Kes., Sp.GK. (Spesialis Gizi Klinik RSUD Gambiran Kota Kediri), dan dr. Indrawan Tri Purnomo, Sp.N. (Spesialis Saraf RS Bhayangkara Kediri).
Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan gejala dini, pertolongan pertama, tata laksana rujukan, hingga proses rehabilitasi pasca stroke. Selain penanganan klinis, aspek pemenuhan gizi penderita juga menjadi sorotan utama. Peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai jenis asupan makanan yang wajib dianjurkan serta makanan berbahaya yang harus dihindari oleh pasien demi mencegah serangan stroke berulang.
Dalam sesi teknis, para nakes diberikan panduan alur penanganan pasien yang disesuaikan secara spesifik berdasarkan tingkat keparahan kondisi darurat medis yang dihadapi.
“Apabila pasien mengalami jatuh mendadak hingga tidak sadarkan diri, maka dapat langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tanpa memerlukan rujukan,” urai narasumber dalam penyampaian materi pelatihan tersebut. Namun, jika pasien masih sadar dengan gejala lemas sebelah atau mulut asimetris, penanganan awal harus dilakukan di puskesmas terlebih dahulu.
Di sisi lain, para tenaga kesehatan juga diinstruksikan untuk tidak melupakan aspek promotif dan preventif melalui edukasi berkelanjutan ke lapisan masyarakat bawah. Mengingat stroke umumnya dipicu oleh faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes melitus, pencegahan sejak dini menjadi kunci utama. Tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif menggalakkan gerakan deteksi dini agar faktor risiko dapat dikendalikan sebelum berakibat fatal.
Melalui penutupan kegiatan ini, dr. Hamidah berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk memperkuat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah masing-masing.
“Setelah mengikuti OJT ini, seluruh peserta diharapkan dapat memahami materi yang telah diberikan dan mengimplementasikannya dalam pelayanan kesehatan sehari-hari, sehingga penanganan kasus stroke di Kota Kediri dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan terintegrasi,” pungkasnya. (sof)






























