Beranda Kediri Raya Antisipasi Puncak El Nino 2026, BPBD Kota Kediri Gencarkan Upaya Mitigasi dan...

Antisipasi Puncak El Nino 2026, BPBD Kota Kediri Gencarkan Upaya Mitigasi dan Kolaborasi Lintas Sektoral

1

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri bergerak cepat melakukan berbagai upaya mitigasi guna mengantisipasi dampak puncak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi antara bulan Juli hingga Oktober 2026. Langkah proaktif ini diambil sebagai bentuk tindak lanjut atas Instruksi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang meminta seluruh pemerintah daerah bersiap menghadapi ancaman kekeringan ekstrem.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, menjelaskan bahwa fenomena cuaca ini membawa potensi risiko yang tidak bisa diremehkan. Dua ancaman utama yang menjadi fokus perhatian jajarannya adalah kelangkaan air bersih dan meningkatnya potensi kebakaran lahan di beberapa titik rawan.

“Dampak paling besar yang ditimbulkan dari terjadinya El Nino adalah kekeringan dan kebakaran,” ujar Joko.

Guna meminimalkan dampak tersebut, BPBD Kota Kediri mengaku telah mencuri start dengan melakukan persiapan sejak beberapa bulan lalu. Koordinasi lintas sektoral menjadi strategi utama untuk menyatukan langkah strategis dan memetakan penanganan yang komprehensif dari hulu ke hilir.

“Kami sudah sejak Mei melakukan upaya mitigasi melalui koordinasi lintas sektor untuk menentukan langkah strategis,” ungkap Joko.

Dalam koordinasi tersebut, BPBD menggandeng Perumda Air Minum (PDAM) Kota Kediri untuk menjamin pasokan air bersih warga tetap aman. Selain itu, sinergi juga dilakukan bersama Dinas Kesehatan demi mengantisipasi lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk menjaga sektor pertanian dari ancaman gagal panen.

Berdasarkan evaluasi dan data historis fenomena serupa pada tahun 2019, BPBD telah mengantongi peta wilayah yang memiliki kerawanan tinggi. Kawasan Lebak Tumpang yang terletak di Kelurahan Pojok, Mojoroto, Kota Kediri diidentifikasi sebagai wilayah yang paling rentan mengalami krisis air bersih, sedangkan wilayah yang rawan kebakaran terletak di kawasan Campurejo, Mojoroto, Kota Kediri dimana wilayah ini didominasi oleh lahan tebu dan persawahan.

“Berdasarkan history data terjadinya El Nino di tahun 2019, di Kota Kediri yang menjadi daerah rawan kekeringan di seputar Lebak Tumpang. Sedangkan untuk daerah rawan kebakaran di wilayah Campurejo dimana banyak lahan tebu dan persawahan,” papar Joko.

Di sisi kesiapan logistik, BPBD Kota Kediri juga telah menyiagakan berbagai peralatan penunjang, mulai dari tandon air portabel hingga armada pemadam. Personel Tim Unit Reaksi Cepat (URC) dipastikan bersiaga penuh selama 24 jam demi memberikan pelayanan dan respons cepat jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat di masyarakat.

Sebagai penutup, Joko mengimbau seluruh warga Kota Kediri untuk ikut meningkatkan kewaspadaan dan mengubah kebiasaan sehari-hari selama musim kemarau ekstrem ini. Masyarakat diminta sangat berhati-hati dalam mengelola api dan lebih bijak dalam mengonsumsi air bersih.

“Masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah sembarangan, kalaupun terpaksa harus membakar pastikan sudah padam seluruhnya. Kemudian untuk penggunaan air, pastikan penggunaan seefisien dan sebijak mungkin agar tidak sampai terjadi krisis air,” pungkasnya.(sof/stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini