Beranda Kediri Raya BMKG: Ketersediaan Air Tanah di Jatim Menurun, Kediri Raya Waspadai Kekeringan

BMKG: Ketersediaan Air Tanah di Jatim Menurun, Kediri Raya Waspadai Kekeringan

3975
Source: Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai menurunnya ketersediaan air tanah selama Agustus 2026. Kondisi ini dipicu musim kemarau yang menyebabkan cadangan air tanah terus berkurang dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di sektor pertanian.

Forecaster Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Yaris, mengatakan prediksi ketersediaan air bagi tanaman diterbitkan setiap bulan oleh BMKG Pusat berdasarkan sejumlah parameter meteorologi, seperti curah hujan, evaporasi, evapotranspirasi, serta karakteristik tanah.

“Hasil pemantauan BMKG menunjukkan pada bulan Agustus sebagian besar wilayah Jawa Timur berada pada kategori kurang atau ketersediaan air tanahnya di bawah 40 persen. Kondisi ini menunjukkan cadangan air tanah terus berkurang akibat musim kemarau sehingga berpotensi meningkatkan kekeringan, khususnya pada lahan pertanian tadah hujan,” ujar Yaris.

Menurutnya, hanya sebagian kecil wilayah di Jawa Timur yang masih berada pada kategori sedang, terutama kawasan pegunungan serta daerah yang beberapa waktu terakhir masih menerima hujan lokal, seperti sebagian Banyuwangi, kawasan Tapal Kuda, Lumajang, Probolinggo, dan Bondowoso. Meski demikian, hujan tersebut belum cukup meningkatkan cadangan air tanah secara signifikan.

Untuk wilayah Kediri Raya, Yaris menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar daerah telah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut. Hanya beberapa wilayah seperti Puncu, Wates, Ngancar, Plosoklaten, Pare, dan Papar yang masih mendapat kiriman hujan lokal, sementara daerah lainnya berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air tanah yang cukup besar.

“Hari tanpa hujan di sebagian besar wilayah Kediri Raya sudah masuk kategori ekstrem, lebih dari 60 hari. Kondisi ini membuat ketersediaan air tanah berada pada kategori kurang sehingga perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya petani, untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Upaya yang disarankan meliputi penggunaan air irigasi secara efisien, penyesuaian jadwal tanam, serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

“Efisiensi penggunaan air, penyesuaian waktu tanam, dan pemilihan varietas yang sesuai sangat penting dilakukan. Jika tidak disesuaikan dengan kondisi kemarau, potensi gagal panen akan semakin besar,” pungkas Yaris. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini