Beranda Olah Raga Harga Selangit! Hak Siar Piala Dunia 2026 Ditolak Sejumlah Negara, Pemerintah Tetap...

Harga Selangit! Hak Siar Piala Dunia 2026 Ditolak Sejumlah Negara, Pemerintah Tetap Bayar Rp1,3 Triliun

0
Tomas Soucek dari Republik Ceko sempat mencetak gol yang kemudian dianulir saat menghadapi Kores Selatan di Piala Dunia 2026. (Foto. REUTERS)

JAKARTA (KUBUS.ID) — Keputusan pemerintah melalui TVRI membeli hak siar Piala Dunia 2026 dengan nilai sekitar Rp1,3 triliun kembali memunculkan pertanyaan di kalangan publik. Dengan nilai yang jauh lebih besar dibanding sebagian besar program siaran televisi nasional, bagaimana sebenarnya pemegang hak siar memperoleh keuntungan dari investasi tersebut?

Piala Dunia 2026 merupakan turnamen terbesar sepanjang sejarah FIFA. Untuk pertama kalinya kompetisi diikuti 48 negara dan menghadirkan 104 pertandingan yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

FIFA sendiri mengungkapkan bahwa hak siar Piala Dunia 2026 telah terjual di lebih dari 220 wilayah di seluruh dunia dan menghasilkan pendapatan media rights tertinggi dalam sejarah turnamen. FIFA menyebut kombinasi penyiar tradisional, platform digital, dan mitra baru telah menciptakan jangkauan global terbesar yang pernah ada untuk Piala Dunia.

Di Indonesia, TVRI resmi menjadi pemegang hak siar seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Stasiun televisi plat merah ini mengatakan seluruh 104 pertandingan akan ditayangkan secara gratis melalui platform free-to-air sehingga dapat diakses masyarakat menggunakan antena televisi biasa.

Menurut sejumlah laporan industri media, nilai lisensi yang dibayarkan untuk memperoleh hak siar tersebut mencapai sekitar Rp1,3 triliun.

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, FIFA tidak menjual hak siar dengan harga yang sama kepada seluruh negara.

Nilai kontrak ditentukan berdasarkan ukuran pasar, jumlah penonton potensial, kekuatan ekonomi, nilai iklan televisi, popularitas sepak bola, hingga jam tayang pertandingan di masing-masing negara.

Kasus India menjadi contoh menarik. Sejumlah media internasional melaporkan FIFA bahkan harus memangkas harga hak siar karena minimnya minat broadcaster akibat banyak pertandingan berlangsung pada jam yang kurang menguntungkan bagi pasar lokal.

Sebaliknya, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar sepak bola terbesar di Asia Tenggara dengan basis penggemar yang sangat besar. Faktor tersebut membuat nilai komersial Piala Dunia di Indonesia tetap tinggi meskipun pertandingan dimainkan di Amerika Utara.

Sementara itu sebagian besar negara tidak mengumumkan nilai resmi kontrak hak siar karena dilindungi klausul kerahasiaan antara FIFA dan broadcaster. Namun sejumlah media internasional, laporan industri, Reuters, dan media bisnis regional mengungkap kisaran nilai yang sedang dinegosiasikan atau disepakati.

Reuters melaporkan FIFA akhirnya menyepakati harga sekitar 60 juta dolar AS (Rp1,06 triliun) dengan China Media Group (CMG) setelah negosiasi yang berlangsung lama. Nilai itu jauh lebih rendah dibanding target awal FIFA yang disebut mencapai 300 juta dolar AS. Salah satu faktor yang menekan harga adalah perbedaan zona waktu antara Amerika Utara sebagai tuan rumah dengan pasar Asia.

Kasus Thailand menjadi contoh menarik. Menurut The Nation Thailand, FIFA awalnya meminta lebih dari 1,3 miliar baht atau sekitar 40 juta dolar AS (Rp 711 miliar ) hanya untuk hak siar Piala Dunia 2026. Namun Jasmine International (JAS) menolak dan meminta FIFA menyesuaikan harga dengan Vietnam yang disebut hanya membayar sekitar 15 juta dolar AS (Rp 266 miliar). Setelah negosiasi panjang, JAS akhirnya memperoleh hak siar untuk Piala Dunia 2026, Piala Dunia 2030, serta beberapa turnamen FIFA lainnya dalam paket senilai 70 juta dolar AS. (VOI.ID/far) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini