
KUBUS.ID – Perayaan HUT Kemerdekaan RI melalui karnaval dan pawai dinilai mengalami perubahan dalam cara masyarakat mengekspresikan nasionalisme. Jika dahulu perayaan cenderung berlangsung formal dan penuh simbol negara, kini masyarakat lebih bebas menampilkan kreativitas dan muatan lokal.
Dosen Ilmu Politik UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Yudi Krisno Wicaksono, M.IP., mengatakan perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat memaknai kemerdekaan. Nasionalisme yang sebelumnya banyak disampaikan secara doktrinal, kini lebih ekspresif dan disesuaikan dengan karakter masyarakat di masing-masing daerah.
“Sekarang lebih bagaimana masyarakat itu dengan langkahnya masing-masing memiliki sebuah ekspresi yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri,” kata Yudi.
Menurutnya, munculnya kostum unik, karakter hiburan, hingga berbagai simbol dalam karnaval tidak otomatis menunjukkan menurunnya nasionalisme. Bentuk ekspresi masyarakat terhadap simbol negara kini lebih beragam dan tidak lagi harus ditampilkan secara kaku seperti pada masa lalu.
Yudi menilai pemerintah daerah perlu memberikan ruang bagi kreativitas masyarakat dalam perayaan kemerdekaan, selama tetap mengikuti aturan terkait simbol negara. Festival budaya dan karnaval juga dinilai dapat menjadi sarana memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal sekaligus mendorong perekonomian masyarakat.
“Bagaimana masyarakat itu juga terlibat di dalam upaya untuk mengembangkan, mengglorifikasikan kebanggaan masyarakat lokal terkait baju-baju adat, busana adat, maupun budaya-budaya lokal,” ujarnya.
Ia berharap berbagai kegiatan perayaan kemerdekaan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu mengangkat budaya dan ekonomi lokal. Menurutnya, keberagaman bentuk perayaan merupakan bagian dari cara masyarakat menunjukkan rasa memiliki terhadap kemerdekaan. (stm)






























