KEDIRI, (KUBUS.ID) – Kreativitas warga Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Selain dikenal dengan suasana alam yang asri dan potensi buah durian, desa tersebut kini memiliki produk kerajinan rumahan berupa tas anyaman plastik yang mampu membuka peluang penghasilan bagi warga.
Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu upaya Pemerintah Desa Krenceng di bawah kepemimpinan Kepala Desa Nurhuda dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Salah satu usaha yang tumbuh dari kreativitas warga adalah sentra kerajinan tas anyaman yang banyak dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga.
Salah satu penggerak usaha tersebut adalah Afifah Chusnul atau Evi, warga sekaligus Ketua RT 09 Desa Krenceng. Keterampilan membuat tas anyaman diperolehnya setelah mengikuti pelatihan bersama ibu-ibu PKK di balai desa. Dari keterampilan tersebut, Evi kemudian mencoba mengembangkan produksi secara mandiri di rumah.
“Awalnya kami memanfaatkan sisa bahan dari kegiatan pelatihan bersama warga sekitar. Dari situ kemudian saya mencoba mengembangkan sendiri. Prosesnya memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran, tetapi kami ingin usaha ini juga bisa membuka peluang kerja bagi warga sekitar,” jelas Evi, Rabu (23/9/2026).
Perjalanan usaha tersebut tidak langsung menghasilkan keuntungan besar. Pada masa awal, Evi bersama para perajin memilih untuk mengalokasikan kembali hasil yang diperoleh sebagai tambahan modal. Langkah tersebut dilakukan agar kegiatan produksi dapat terus berjalan sekaligus berkembang secara bertahap.
Kini, usaha kerajinan tersebut telah berkembang dan melibatkan sekitar 20 ibu-ibu di lingkungan sekitar. Mereka tidak hanya mendapatkan aktivitas produktif, tetapi juga memperoleh tambahan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga.
Perkembangan usaha semakin pesat setelah dilakukan berbagai inovasi terhadap produk. Mulai dari pilihan motif, bentuk, hingga perpaduan warna dibuat lebih beragam sehingga menghasilkan tas yang menarik dan sesuai dengan selera pasar saat ini.
Pemasaran pun tidak lagi mengandalkan konsumen di sekitar desa. Media sosial dan platform marketplace dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan penjualan. Hasilnya, tas anyaman produksi warga Krenceng telah menjangkau konsumen di berbagai daerah, termasuk hingga luar Pulau Jawa seperti Sumatra.
Beragam tas anyaman berukuran kecil hingga model lainnya ditawarkan dengan harga relatif terjangkau, mulai Rp5.000 sampai Rp30.000 per buah. Permintaan yang terus berkembang membuat kapasitas produksi kini mampu mencapai sekitar 1.000 tas dalam satu bulan.
Keberadaan sentra kerajinan tersebut menjadi gambaran bahwa potensi ekonomi desa dapat tumbuh dari kreativitas sederhana yang dikelola secara konsisten. Selain menghasilkan produk bernilai jual, usaha ini turut menciptakan ruang pemberdayaan bagi ibu-ibu rumah tangga.
Pemerintah Desa Krenceng bersama pelaku UMKM pun berharap perkembangan kerajinan tersebut dapat terus diperkuat, baik dari sisi kualitas produk, pemasaran maupun kapasitas produksi. Ke depan, sentra tas anyaman plastik ini diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu pusat industri rumah tangga unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga berpeluang menembus pasar mancanegara.(atc/stm)































