Beranda Kediri Raya Monsun Australia Kembali Menguat, Cuaca Jawa Timur Mulai Tidak Menentu

Monsun Australia Kembali Menguat, Cuaca Jawa Timur Mulai Tidak Menentu

1
Foto: BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk

KUBUS.ID – Pengaruh Monsun Australia kembali menguat di wilayah Jawa Timur. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan cuaca di wilayah tersebut, terutama saat terjadi pertemuan dengan massa udara dari Monsun Asia.

Setiyaris, S.P., M.Kom., Forecaster BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, menjelaskan Monsun Australia dikenal sebagai angin timuran yang membawa massa udara relatif kering. Sebaliknya, Monsun Asia membawa massa udara yang lebih basah.

“Kalau Monsun Australia mendominasi wilayah kita akan mengalami musim kemarau karena sifat massa udara yang lewat ke wilayah kita itu sifatnya kering,” jelas Setiyaris.

Menurutnya, Monsun Australia sempat melemah dalam beberapa hari terakhir, tetapi kembali menguat. Kondisi tersebut terjadi di tengah dinamika atmosfer di sekitar Samudra Pasifik yang turut memengaruhi pergerakan massa udara.

Pertemuan dan dorongan dari dua massa udara tersebut dapat membuat atmosfer menjadi tidak stabil. Dampaknya, kondisi cuaca di Jawa Timur dapat berbeda antarwilayah, dengan sebagian daerah mengalami hujan sementara daerah lainnya tetap kering.

Setiyaris mengatakan dinamika tersebut diperkirakan semakin intens memasuki Oktober hingga November. Karena itu, masyarakat perlu mulai bersiap menghadapi potensi cuaca yang menyertai masa peralihan menuju musim penghujan.

“Potensi bencana hidrometeorologi juga tinggi,” katanya.

Potensi yang perlu diantisipasi antara lain hujan deras, angin kencang, petir, dan puting beliung. Wilayah yang rawan banjir dan longsor juga diminta melakukan persiapan sejak sekarang, tanpa menunggu musim penghujan tiba.

Setiyaris mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan informasi prakiraan musim dan cuaca BMKG sebagai dasar perencanaan maupun aktivitas harian. Pemeriksaan pohon, baliho, saluran air, dan fasilitas lain yang berpotensi menimbulkan bahaya juga perlu dilakukan lebih awal.

“Kalau memang itu berpotensi roboh, berpotensi mendatangkan bencana, itu dari sekarang harus sudah dirapikan,” ujarnya. (stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini