KUBUS.ID – Fenomena sulitnya mencari pekerjaan yang dialami banyak fresh graduate dapat berdampak pada kondisi psikologis para pencari kerja. Ketua Program Studi Doktor S3 Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si., mengatakan kondisi tersebut berpotensi menimbulkan stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional.
Menurut Prof. Tulus, tekanan keluarga, kebutuhan finansial, serta persaingan kerja yang semakin ketat menjadi faktor yang memperberat beban lulusan baru.
“Fresh graduate bisa mengalami stres, kecemasan terhadap masa depan, bahkan sulit tidur karena belum mendapatkan pekerjaan,” ujarnya saat wawancara dengan Radio ANDIKA.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Saat ini perusahaan membutuhkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi seperti analisis data, kecerdasan buatan (AI), digital marketing, hingga kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks.
Selain itu, kondisi ekonomi yang tidak menentu memunculkan fenomena yang disebut career shock, yaitu ketika harapan memperoleh pekerjaan setelah lulus tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Prof. Tulus menilai lulusan yang memiliki pengalaman magang, freelance, berwirausaha, serta jaringan profesional yang baik cenderung lebih adaptif dalam menghadapi perubahan pasar kerja.
Ia juga mengingatkan bahwa perusahaan kini tidak lagi hanya melihat IPK atau reputasi kampus. Kemampuan belajar cepat (learning agility), komunikasi, kerja tim, berpikir kritis, penguasaan bahasa asing, serta soft skill menjadi faktor yang semakin diperhitungkan.
“Hard skill saja tidak cukup. Lulusan harus memiliki skill mix, yaitu kombinasi kemampuan teknis dan soft skill agar lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja,” tegasnya. (rif)































