Beranda Nasional Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

1887
Peta Selat Hormuz (Foto: Google Maps)

KUBUS.ID – Penutupan Selat Hormuz langsung mengguncang pasar energi dunia. Jalur sempit yang menjadi urat nadi pengiriman minyak global itu resmi ditutup pada Sabtu (28/2/2026) setelah konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memanas.

Dampaknya terasa seketika. Melansir Kompas.com, harga minyak mentah Brent di pasar Asia pada Senin (2/3/2026) melonjak ke kisaran 80–81,5 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,35–1,37 juta (kurs Rp 16.700). Di kawasan Teluk, kapal-kapal niaga tertahan. Sejumlah perusahaan pelayaran global juga memilih menghentikan operasional demi keselamatan awak dan kargo.

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, wilayah ini berada di antara Iran di utara dan Oman di selatan.

Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya sekitar 33 kilometer. Jalur pelayaran efektif bahkan lebih sempit lagi, sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.

Posisi ini membuat Selat Hormuz menjadi titik strategis sekaligus rawan. Jalur ini merupakan satu-satunya pintu keluar utama minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar menuju pasar Asia dan Eropa.

Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak, atau hampir 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat ini. Selain itu, sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintas melalui jalur yang sama.

Respons Iran

Iran mengumumkan penutupan selat tersebut bagi pelayaran internasional setelah serangan gabungan AS dan Israel ke wilayahnya pada 28 Februari 2026. Kapal-kapal yang berada di kawasan Teluk menerima peringatan agar tidak melintas.

Sejumlah operator pelayaran besar pun langsung menunda perjalanan.

Kepala Ekonomi Global Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso mengatakan situasi berpotensi memburuk sebelum mereda.

“Yang belum diketahui adalah niat dan kemampuan Iran memblokir Selat Hormuz. Jika benar-benar terjadi, harga minyak dan gas bisa melonjak tajam,” ujarnya seperti dikutip The Guardian, Senin (2/3/2026).

Tak lama setelah pengumuman tersebut, harga Brent melonjak hingga 81,57 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,375 juta.

Para analis memperkirakan, jika konflik Israel–Iran terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi menembus 100 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,686 juta.

Risiko Inflasi Global

Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor minyak dan gas, tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan.

Kepala Ekonomi Barrenjoey Bank Johnathan McMenamin menilai lonjakan harga energi akan mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

“Ini meningkatkan inflasi secara langsung melalui harga bahan bakar yang tinggi. Namun dampaknya bisa meluas ke harga-harga lain, sekaligus menekan kemampuan masyarakat untuk berbelanja,” katanya.

Menurut Moody’s Analytics, negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi juga akan terkena imbasnya. Di antaranya Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong yang sekitar 80 persen kebutuhan energinya berasal dari impor.

Kepala Ekonom ANZ Richard Yetsenga menyebut situasi ini berpotensi menjadi guncangan besar bagi kawasan.

“Jika harga minyak tinggi berlangsung lama, negara-negara tersebut berisiko kehilangan sebagian pendapatan nasionalnya,” ujarnya.

Produksi Energi Mulai Terganggu

Gangguan pengiriman minyak dan LNG semakin terasa setelah sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah mulai menunda produksi sebagai langkah mitigasi risiko konflik.

Beberapa fasilitas yang melakukan penyesuaian operasi antara lain milik QatarEnergy, terminal Ras Tanura milik Aramco Arab Saudi, serta kilang di wilayah Kurdistan, Irak. Meski tidak dilaporkan kerusakan langsung, perusahaan energi memilih mengurangi aktivitas untuk menghindari risiko lebih besar.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga LNG di Eropa dapat melonjak hingga 130 persen jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berlangsung selama satu bulan.

Ketegangan AS–Iran juga meningkatkan volatilitas harga gas di pasar global. Jika gangguan berlangsung lebih dari dua bulan, harga gas di Eropa berpotensi menembus 100 euro per megawatt hour, sementara LNG spot di Asia bisa mencapai sekitar 25 dolar AS per MMBtu.

Singkatnya, satu selat sempit di Timur Tengah kini menjadi pusat perhatian dunia. Jika konflik tak segera mereda, dampaknya bukan hanya pada kawasan Teluk—melainkan pada harga energi, inflasi, dan stabilitas ekonomi global.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini