Beranda Uncategorized Waspadai Konten Rekayasa AI, Dosen UNP Kediri : Tetap Kritis dan Jangan...

Waspadai Konten Rekayasa AI, Dosen UNP Kediri : Tetap Kritis dan Jangan Mudah Terprovokasi

1514

KEDIRI, (KUBUS.ID) –  Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa manfaat besar di berbagai bidang. Namun, penyalahgunaan teknologi ini juga perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan dampak sosial yang luas.

Ardi Sanjaya, M.Kom, Dosen Teknik Informatika UNP Kediri, mengatakan AI seharusnya dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan, bukan menggantikan proses belajar. Menurutnya, perkembangan AI yang semakin canggih memungkinkan munculnya berbagai konten palsu, termasuk foto dan video rekayasa yang berisi informasi tidak benar dan berpotensi memicu provokasi.

Di bidang pendidikan, Ardi menilai penggunaan AI yang tidak tepat dapat mengurangi kemampuan dasar siswa. Banyak pelajar yang hanya memindahkan jawaban dari AI tanpa memahami konsep dan pengetahuan yang mendasarinya.

“AI seharusnya digunakan untuk membantu pekerjaan, bukan menggantikan proses belajar. Saat ini masih sering ditemukan siswa yang mengerjakan tugas hanya dengan menyalin jawaban dari internet atau AI tanpa memahami materi yang dipelajari. Ini menjadi salah satu dampak negatif yang perlu mendapat perhatian,” kata Ardi.

Karena itu, proses pembelajaran tetap memerlukan interaksi antara guru dan siswa. Penggunaan internet sebagai sumber literasi juga perlu disertai pengawasan agar siswa tidak sepenuhnya bergantung pada AI.

Meski demikian, AI juga memberikan banyak manfaat. Bagi kreator konten, AI dapat membantu menghasilkan karya yang lebih variatif. Sementara di lingkungan perguruan tinggi, AI mendukung penelitian, analisis data, hingga pembuatan simulasi.

“AI ibarat pisau bermata dua. Teknologi ini bisa memberikan banyak manfaat, tetapi juga bisa menimbulkan masalah jika tidak digunakan secara bijak,” imbuhnya.

Ardi mengingatkan masyarakat untuk lebih cermat menyaring informasi yang beredar di media sosial. Keaslian informasi dapat dikenali dengan memeriksa sumber berita dan melakukan verifikasi sebelum menyebarkannya. Menurutnya, keinginan menjadi yang tercepat membagikan informasi sering kali membuat validitas berita diabaikan.

“Masyarakat perlu memiliki pengendalian diri saat menerima informasi. Jangan terburu-buru membagikan berita sebelum memahami konteks dan memastikan kebenarannya,” ujar Ardi.

Ia menambahkan, risiko terbesar dari penyebaran informasi palsu adalah munculnya perpecahan dan provokasi di tengah masyarakat. Sementara terkait kekhawatiran AI akan menggantikan pekerjaan manusia, Ardi menilai hal itu dapat diantisipasi selama seseorang memiliki keterampilan yang kompeten dan terus berkembang.

Masyarakat diimbau menggunakan AI secara bijak serta tetap mengembangkan kemampuan diri. Setiap individu sebaiknya memiliki setidaknya satu keahlian utama hingga mencapai tingkat ahli, yang kemudian didukung kemampuan bercerita, komunikasi, dan kolaborasi agar tetap relevan di era teknologi AI.

“AI memiliki sisi positif dan negatif. Karena itu, kita harus siap menghadapi keduanya dengan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan yang tidak mudah digantikan teknologi,” tutupnya.(ayu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini