Kediri (KUBUS.ID) – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri terus memperkuat berbagai program pengendalian penduduk dan pelayanan keluarga berencana guna menjaga keseimbangan pertumbuhan penduduk. Hingga Semester I Tahun 2026, angka kelahiran di Kabupaten Kediri tercatat mengalami kenaikan, namun masih berada pada kondisi yang dinilai ideal dan terkendali.
Berdasarkan data DP2KBP3A Kabupaten Kediri, jumlah kelahiran selama periode Januari–Juni 2026 mencapai 6.442 kelahiran, meningkat 364 kelahiran atau sekitar 6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebanyak 6.078 kelahiran.
Meski demikian, jika dibandingkan dalam kurun waktu yang lebih panjang, tren angka kelahiran di Kabupaten Kediri justru menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2010 jumlah kelahiran masih berada di atas 25 ribu kelahiran, sedangkan sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 15.137 kelahiran.
Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri, Nurwulan Andadari, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah kelahiran pada pertengahan tahun ini masih berada dalam batas yang wajar dan tidak memengaruhi keseimbangan pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kediri.
“Per Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025 memang ada kenaikan sekitar 300 kelahiran. Namun Total Fertility Rate (TFR) Kabupaten Kediri saat ini masih berada di angka 2,1, yang merupakan angka ideal untuk menjaga keseimbangan jumlah penduduk. Kami terus berupaya agar angka kelahiran tidak turun terlalu rendah maupun meningkat terlalu tinggi,” ujar Nurwulan.
Ia menjelaskan, TFR sebesar 2,1 menjadi indikator penting dalam menjaga regenerasi penduduk secara berkelanjutan. Apabila angka tersebut turun di bawah dua, maka dalam jangka panjang jumlah penduduk berpotensi mengalami penurunan. Sebaliknya, apabila meningkat terlalu tinggi, akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan pelayanan publik, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga penyediaan lapangan kerja.
Karena itu, DP2KBP3A Kabupaten Kediri terus mengedepankan program keluarga berencana yang berorientasi pada kualitas keluarga, bukan semata-mata menekan angka kelahiran.
Menurut Nurwulan, fokus utama pemerintah saat ini adalah mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan melalui penguatan pelayanan keluarga berencana dan penyediaan akses kontrasepsi yang mudah bagi masyarakat.
“Kami lebih memfokuskan program pada pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Pelayanan keluarga berencana diprioritaskan kepada kelompok masyarakat yang rentan, namun tetap terbuka bagi seluruh pasangan usia subur sesuai kebutuhan masing-masing,” jelasnya.
Adapun kelompok sasaran prioritas tersebut meliputi pasangan usia subur dengan gangguan kejiwaan (ODGJ), penyandang HIV, keluarga yang belum memiliki dokumen kependudukan maupun dokumen perkawinan secara lengkap, hingga remaja yang mengalami kehamilan pada usia dini.
Melalui berbagai program tersebut, DP2KBP3A optimistis laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kediri dapat terus dijaga agar tetap seimbang, sehingga mampu mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Terkait proyeksi angka kelahiran hingga akhir tahun 2026, Nurwulan menyebut pihaknya belum dapat memberikan estimasi secara pasti. Namun melihat tingginya partisipasi masyarakat dalam mengikuti program keluarga berencana, peningkatan jumlah kelahiran diperkirakan tetap berada dalam batas yang terkendali.
“Kami belum bisa memprediksi angka kelahiran sampai akhir tahun. Namun melihat antusiasme masyarakat dalam mengikuti pelayanan keluarga berencana yang cukup baik, apabila terjadi kenaikan, kemungkinan tetap berada di kisaran 300-an kelahiran dan tidak sampai melonjak hingga seribu kelahiran,” pungkasnya.(atc)































