(KUBUS.ID) – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, yang mengusung semangat “Beudaya Meusare Sare” atau berdaya bersama-sama. KKI 2026 menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat daya saing UMKM, memperluas akses pembiayaan, mendorong digitalisasi, sekaligus membuka akses pasar domestik hingga global.
Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, Bank Indonesia menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis dalam pelaksanaan KKI 2026.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa penguatan UMKM ke depan bertumpu pada tiga kata kunci, yakni bangkit, tangguh, dan berdaya saing.
“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry Damayanti saat membuka KKI 2026.
Semangat tersebut juga diwujudkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri melalui program Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, yakni Karya Kreatif Mataraman x Digital Mataraman Festival (KKM x DIGIMAFest).
Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Taman Hijau Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri, tersebut diikuti 71 UMKM yang merupakan produk unggulan dari 13 kabupaten/kota. Transaksi penjualan UMKM secara offline dan online selama kegiatan tercatat mencapai lebih dari Rp500 juta.
Tidak berhenti pada promosi produk, Bank Indonesia Kediri juga memberikan penguatan kapasitas usaha, peningkatan kualitas dan nilai tambah produk, digitalisasi, perluasan akses pasar, hingga fasilitasi pembiayaan dan ekspor.
Program pembinaan tersebut mencakup berbagai sektor unggulan Mataraman, mulai dari kopi, pangan olahan, perikanan, gula aren, wastra hingga kerajinan. Salah satu UMKM binaan yang disebut dalam siaran pers adalah Arbilest Coffee, yang menjadi contoh pengembangan komoditas unggulan daerah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.
Sepanjang rangkaian Road to KKI, KPwBI Kediri juga telah memfasilitasi business matching ekspor untuk komoditas gula aren, kopi, dan kerajinan dengan nilai mencapai Rp4,078 miliar. Selain itu, business matching pembiayaan turut didorong dengan nilai mencapai Rp7,69 miliar.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperkuat ekosistem UMKM di 13 kabupaten/kota wilayah kerja KPwBI Kediri agar semakin produktif, mandiri, inklusif, serta mampu menembus pasar global.
Pada KKI 2026, sebanyak 11 UMKM dari wilayah kerja KPwBI Kediri turut berpartisipasi secara daring. Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari kopi, makanan olahan, fesyen, batik, kerajinan hingga produk kreatif lainnya.
Partisipasi tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM Mataraman untuk memperluas eksposur produk, memperkuat jejaring bisnis, dan membangun kolaborasi dengan calon mitra.
Dengan pendekatan penguatan kapasitas, digitalisasi, pembiayaan, serta perluasan pasar, Bank Indonesia menunjukkan komitmen untuk menjadikan UMKM sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus bagian penting dalam memperkuat daya saing ekonomi nasional.
PLH Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Deasi Surya Andarina, melalui siaran pers tersebut menegaskan bahwa berbagai program yang dijalankan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem UMKM di wilayah Mataraman.
Melalui KKI 2026 dan rangkaian Road to KKI, Bank Indonesia terus mendorong UMKM agar tidak sekadar bertahan, tetapi mampu bangkit, tumbuh, naik kelas, dan berdaya saing hingga pasar global.(atc)































