Beranda Kediri Raya BMKG Dhoho Kediri Gelar FGD Lintas Sektoral, Siapkan Langkah Mitigasi Hadapi Kemarau...

BMKG Dhoho Kediri Gelar FGD Lintas Sektoral, Siapkan Langkah Mitigasi Hadapi Kemarau dan El Nino 2026

2

KEDIRI, KUBUS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri bergerak cepat dalam membangun resiliensi daerah. Sebagai langkah strategis, BMKG menggelar Focus Group Discussion (FGD) lintas sektoral guna memperkuat kesiapsiagaan wilayah Kediri dan sekitarnya. Langkah ini diambil demi mengantisipasi dampak nyata dari kombinasi musim kemarau dan fenomena alam El Nino yang diprediksi melanda sepanjang tahun 2026.

Kegiatan krusial ini melibatkan sinergi aktif dari berbagai instansi penting, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), hingga Bank Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, seluruh pihak berkomitmen untuk menyamakan persepsi, memetakan titik-titik potensi risiko, serta merumuskan rencana mitigasi kekeringan secara komprehensif. Upaya tersebut difokuskan untuk melindungi stabilitas sektor pertanian, menjamin ketersediaan air bersih, serta menjaga kesejahteraan masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Lukman Soleh, S.Hut, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan BMKG Pusat. Ia menekankan bahwa tantangan iklim tahun ini tergolong cukup berat karena adanya akumulasi dua fenomena pergantian musim yang terjadi secara bersamaan. Puncak dari ancaman cuaca panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.

“Menindaklanjuti dari BMKG pusat untuk menghadapi Musim Kemarau 2026 yang dibarengi dengan adanya fenomena El Nino sehingga mengakibatkan curah hujan rendah serta peningkatan suhu ekstrem dan durasi musim kemarau yang lebih panjang dan mundurnya musim hujan di mana musim hujan diperkirakan dimulai bulan November. Musim kemarau yang dimulai awal Mei ini dan puncaknya di bulan Juli hingga September dan puncak El Nino di bulan Juli hingga September dengan kategori El Nino sedang hingga kuat. Dengan agenda FGD ini goals nya sinergi lintas instansi dapat terjalin dengan maksimal sehingga meminimalisir bencana serta memudahkan untuk melakukan langkah mitigasi secara menyeluruh,” ujar Lukman.

Sementara itu, Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Dhoho Kediri, Satria Kreda Nugraha, memaparkan secara rinci mengenai dampak multisektoral yang mengintai wilayah Kediri akibat penurunan curah hujan yang drastis. Berdasarkan analisis tim data, dampak tersebut tidak hanya mengancam urusan domestik, melainkan meluas hingga ke sektor transportasi udara akibat perubahan pola angin yang cukup kencang. Selama periode Juni hingga November, arah angin diprediksi akan didominasi dari arah selatan dengan kecepatan berkisar antara 11-17 knot.

Selain penerbangan, Satria menyebutkan tiga sektor utama lainnya yang paling rentan terdampak, yaitu sektor kebencanaan, pertanian, dan ekonomi. Penurunan curah hujan yang ekstrem memicu kekhawatiran tinggi di wilayah-wilayah rawan kekeringan, di mana pasokan air bisa menyusut drastis. Di bidang agronomi, panjangnya masa kemarau berisiko merusak hingga mematikan tanaman, yang pada akhirnya akan memicu penurunan hasil panen dan melahirkan ancaman inflasi pada sektor pangan nasional.

BMKG mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi fenomena alam ini tidak hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan juga menuntut peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Warga diimbau untuk waspada terhadap potensi kebakaran lahan akibat cuaca kering yang menyengat. Selain itu, menjaga kesehatan fisik di tengah lonjakan suhu ekstrem juga menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan.

“Memasuki musim kemarau ini curah hujan pasti akan turun, selain itu tahun ini diprediksi akan terjadi El Nino dengan kategori lemah hingga kuat, dan saat ini sudah memasuki El Nino sedang. Dampak curah hujan yang rendah ini akan secara otomatis berdampak multisektoral. Selalu mengawasi lahan yang dimiliki agar tidak terjadi kebakaran, serta waspada terjadinya heat stroke dengan tidak keluar rumah antara jam 12 sampai 14. Selain itu tetap menjaga kondisi tubuh agar tetap terhidrasi,” pungkas Satria.(sof/ikj)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini