ENDE, KUBUS.ID – Gempa susulan masih dirasakan warga Desa Beramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga hingga kini belum berani kembali ke dalam rumah karena sebagian bangunan mengalami kerusakan, bahkan beberapa rumah tembok dilaporkan roboh.
Ketua Karang Taruna Desa Beramari, Anang Prima, mengatakan warga masih memilih bertahan di luar rumah sejak gempa pertama terjadi. Mereka tidur di teras, halaman rumah, maupun lapangan dengan menggunakan tenda terpal yang dibuat secara mandiri.
“Dari gempa pertama kami masih tidur di teras, di lapangan. Pokoknya di halaman masing-masing pakai tenda terpal,” kata Anang saat memberikan informasi terkini kepada Radio ANDIKA.
Menurut Anang, sebagian besar rumah tembok di Desa Beramari mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat warga tidak berani menggunakan rumah sebagai tempat berlindung. Rumah dengan konstruksi sederhana seperti berdinding gedek menjadi sebagian bangunan yang masih bertahan.
Desa Beramari berada di kawasan pesisir Pantai Selatan. Jarak sejumlah rumah warga dari bibir pantai sekitar 300 meter. Saat gempa pertama, warga sempat khawatir terjadi tsunami setelah menerima informasi mengenai potensi tsunami. Air laut juga sempat surut, namun kondisi terkini dilaporkan masih aman.
“Untuk kondisi air lautnya masih aman. Cuma waktu gempa pertama memang takut tsunami karena ada informasi dari BMKG potensi tsunami,” ujar Anang.
Selain bertahan di tenda darurat, warga juga bergotong royong mendirikan tempat ibadah sementara. Anang mengatakan masyarakat bersama-sama membangun masjid darurat menggunakan tenda agar tetap dapat melaksanakan salat di tengah kondisi pascagempa.
Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa di Desa Beramari. Namun, sejumlah warga mengalami luka ringan akibat tertimpa material bangunan yang roboh. Kondisi warga masih terus waspada karena gempa susulan masih terjadi.
Untuk bantuan, warga telah menerima sekitar 40 kantong beras dengan berat masing-masing lima kilogram, mi, dan telur dari BPBD. Namun, bantuan tersebut belum mencukupi kebutuhan warga dalam beberapa hari ke depan.
“Tenda dan alas tidur belum sama sekali. Yang kita butuhkan sekarang beras lebih dulu. Kalau untuk tenda, kita bikin ala kadarnya dari terpal sendiri,” jelas Anang.
Dapur umum di Desa Beramari juga masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Warga dalam satu dusun bergotong royong menyiapkan makanan untuk kebutuhan bersama. Sementara itu, aktivitas ekonomi masih lumpuh karena warga belum berani beraktivitas normal di tengah ancaman gempa susulan.
Warga saat ini paling membutuhkan bahan makanan, terutama beras, obat-obatan, serta perlengkapan pengungsian seperti tenda, tikar, dan kasur. Persediaan beras yang ada juga belum dapat dipastikan mampu mencukupi kebutuhan warga untuk beberapa hari ke depan.
Meski demikian, kondisi listrik dan jaringan komunikasi di Desa Beramari saat ini sudah kembali aman. Warga berharap bantuan kebutuhan dasar dapat segera menjangkau desa mereka, terutama untuk kelompok lansia, anak-anak, dan warga yang membutuhkan pengobatan.(ikj)






























