Beranda Dunia Harga Minyak Dunia Turun Signifikan, Terendah Sejak Maret 2026

Harga Minyak Dunia Turun Signifikan, Terendah Sejak Maret 2026

88
ilustrasi. foto : istimewa

JAKARTA, KUBUS.ID – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan secara signifikan pada Selasa (9/6/2026). Penurunan tersebut berada di level terendah sejak Maret 2026. Harga minyak mentah Brent turun lima persen menjadi sekitar 90 dollar AS (sekitar Rp 1.615.707) per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari lima persen menjadi sekitar 86,4 dollar AS (sekitar Rp 1.551.830) per barel.

Dikutip dari AnadoluAjansi, Selasa (9/6/2026), penurunan tersebut terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan menghentikan serangan sementara.

Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright juga mengatakan pada Selasa (9/6/2026) bahwa lalu lintas kapal lewat Selat Hormuz meningkat “secara signifikan”. Sebelumnya CNBC pada Kamis (4/6/2026) juga mengabarkan bahwa harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Harga minyak mentah Brent tercatat turun 3,1 persen dan ditutup di angka 93,04 dollar AS per barel. Kemudian, harga minyak WTI dilaporkan mengalami penurunan 2,8 persen dan ditutup di level 95,03 dollar AS per barel. Penurunan harga kala itu terjadi menyusul Presiden AS Donald Trump enggan untuk melanjutkan perang dengan Iran meski terjadi bentrokan.

Harga minyak dunia tetap berada lebih mahal dibandingkan sebelum perang antara AS-Israel dengan Iran. Adapun perang tersebut terjadi sejak 28 Februari 2026 yang dimulai AS-Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Kini, perang sedang berada di fase gencatan senjata, meski beberapa serangan kecil terus terjadi dan kebijakan blokade terus berlanjut. Adapun harga minyak itu terjadi dikarenakan ketidakpastian masih berlanjut terkait stabilitas regional dan keamanan pelayaran.

Selain akibat konflik di Timur Tengah, tekanan dari sisi permintaan juga turun menekan harga minyak global. Impor minyak mentah China turun menjadi sekitar 7,8 juta barel per hari pada Mei 2026. Angka itu jadi terendah dalam lebih dari delapan tahun. Melemahnya permintaan dari negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia, ditambah dengan rekor ekspor AS dan pelepasan cadangan darurat, telah membantu membatasi dampak konflik terhadap harga.

Para pelaku pasar terus memantau apakah gencatan senjata tetap berlaku, karena setiap eskalasi baru yang melibatkan produsen utama di kawasan tersebut atau rute pengiriman, cepat memicu kekhawatiran baru terkait pasokan. Para eksekutif dan analis industri minyak menyatakan bahwa harga minyak mentah tetap stabil jika dibandingkan dengan skala gangguan yang terjadi.

Hal seperti itu terjadi berkat adanya cadangan global yang berfungsi sebagai penyeimbang. Namun demikian, mereka memperkirakan harga akan melonjak pada akhir tahun ini seiring dengan berkurangnya cadangan tersebut secara drastis, sementara permintaan musim panas mencapai puncaknya. (kompas.com/art)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini