Surabaya, (KUBUS.ID) – Fenomena karnaval kemerdekaan yang kini semakin beragam, mulai dari kostum unik hingga hiburan musik, dinilai sebagai bentuk kreativitas generasi muda dalam mengekspresikan kemerdekaan. Namun, kreativitas tersebut tetap perlu diiringi pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Sosiolog Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Dr. Agus Mahfud Fauzi, M.Si. mengatakan, perubahan bentuk perayaan kemerdekaan merupakan bagian dari ekspresi generasi saat ini. Menurutnya, simbol perjuangan tidak harus selalu ditampilkan dengan cara lama seperti teatrikal perang atau atribut perjuangan.
“Menurut saya iya. Kreativitas anak muda yang sebenarnya kalau bisa dipupuk dengan baik, maka itu menghadirkan sebuah kemerdekaan gaya baru saat ini. Tentunya dengan pendampingan para generasi tua,” ujarnya.
Meski demikian, Agus menilai sejarah perjuangan tetap harus menjadi pijakan. Generasi muda perlu mengetahui bagaimana para pendahulu merebut kemerdekaan, tetapi cara menyampaikannya harus menyesuaikan perkembangan zaman.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi sekarang juga berbeda. Jika dahulu perjuangan dilakukan melawan penjajahan secara fisik, kini muncul berbagai bentuk ancaman baru, termasuk narkoba dan dampak negatif dunia digital.
“Menurut saya perlu ya itu dihadirkan, tetapi tidak harus mati gaya, hitam-putih, atau mungkin pola yang lama,” katanya.
Agus juga menyoroti media sosial yang menurutnya dapat menjadi bentuk “penjajahan gaya baru” jika tidak digunakan secara bijak. Kemudahan akses informasi dan berbagai platform digital, kata dia, dapat membawa dampak negatif apabila generasi muda tidak memiliki kemampuan menyaring konten.
Ia mencontohkan penggunaan media sosial oleh anak-anak yang terlalu bergantung pada gawai hingga meniru bahasa atau perilaku yang tidak sesuai. Selain itu, kemudahan akses pinjaman online juga dinilai dapat menjadi persoalan ketika digunakan tanpa pemahaman dan kontrol yang baik.
Karena itu, Agus mengajak generasi muda memaknai kemerdekaan bukan sekadar melalui kemeriahan karnaval atau konten yang menarik perhatian. Kreativitas perlu tetap dibangun di atas kesadaran sejarah dan kemampuan menghadapi tantangan zaman.
“Menurut saya generasi muda saat ini harus terus berkaca terhadap para generasi tua dahulu, bagaimana mereka mampu untuk melawan penjajahan riil pada waktu awal kemerdekaan,” tuturnya.
Ia menegaskan, semangat kemerdekaan di era digital seharusnya diwujudkan dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, bukan sekadar mengejar keuntungan atau popularitas tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. (nhd)































