Tulungagung (KUBUS.ID) – Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung mencatat tiga sekolah dasar negeri tidak memperoleh siswa baru pada Tahun Ajaran 2026/2027. Selain itu, satu sekolah dasar swasta juga tidak menerima murid baru dan sedang dalam proses penutupan.
Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, mengatakan awalnya terdapat informasi empat SD negeri yang tidak mendapat murid. Namun setelah dilakukan verifikasi, hanya tiga sekolah negeri yang mengalami kondisi tersebut.
“Yang tidak mendapatkan siswa baru ada tiga SD negeri, yaitu SDN 1 Tenggong di Kecamatan Rejotangan, SDN 4 Besuki di Kecamatan Besuki, dan SD Negeri Dlodo di Kecamatan Pucanglaban. Sedangkan satu lagi adalah sekolah swasta,” ujarnya saat dikonfirmasi Radio ANDIKA.
Menurut Rifka, penyebabnya berbeda-beda. Salah satunya dipengaruhi faktor geografis dan minimnya jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut. Kondisi itu terjadi di SDN 4 Besuki yang berada di kawasan pegunungan.
“Setelah kami konfirmasi, memang di wilayah itu tidak ada anak usia masuk SD pada tahun ajaran ini,” jelasnya.
Selain faktor geografis, Rifka menyebut masih ada anggapan sebagian orang tua bahwa sekolah tertentu lebih unggul dibanding sekolah lainnya. Padahal, pemerintah terus melakukan peningkatan kualitas pendidikan, mulai dari sarana prasarana, kurikulum hingga kompetensi guru.
Meski demikian, ia mengatakan jumlah sekolah yang tidak memperoleh murid tahun ini justru berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, SD Swasta Dlodo di Kecamatan Pucanglaban tidak menerima murid baru karena persoalan internal yayasan. Jumlah siswa yang terus menurun serta kondisi kesehatan kepala sekolah menjadi alasan sekolah tersebut mengajukan penutupan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN).
“Seluruh siswa yang masih bersekolah di sana sudah kami distribusikan ke sekolah negeri terdekat di wilayah Pucanglaban,” katanya.
Rifka juga mengakui masih ada sejumlah SD di Tulungagung yang hanya menerima kurang dari 10 siswa baru. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah sekolah swasta tidak memiliki pembatasan jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar, sehingga dapat menerima siswa dalam jumlah lebih banyak dibanding sekolah negeri.
Di sisi lain, kondisi sekolah yang tidak mendapatkan murid baru berpotensi memengaruhi pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG), khususnya bagi guru kelas yang harus memenuhi beban mengajar minimal 24 jam per minggu.
“Yang terdampak adalah tunjangan profesi guru karena perhitungannya berdasarkan beban mengajar. Untuk solusinya, saat ini masih kami rumuskan bersama pimpinan, pemerintah daerah, dan kepala sekolah,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap SD negeri pada tahun ajaran mendatang, Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung akan terus meningkatkan mutu pendidikan melalui perbaikan sarana prasarana, peningkatan kompetensi guru, penguatan citra sekolah, serta mendorong pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang lebih berimbang antara sekolah negeri dan swasta. (nhd)
































